Ketika Sekeping Perjalanan, Tetap Layak Diabadikan

Basically, saya suka menulis sejak SD, mulai dari buku harian hingga sekarang menggemari dunia ngeblog. Ya, menulis ala saya, gaya saya, yang masih saja jauh dari kaidah menulis KBBI. Menulis dan berada di rumah, adalah hal yang jelas-jelas mendefiniskan saya sebagai tipe anak rumahan. Lebih suka berada di kamar, corat-coret diary ataupun sekedar mendengarkan radio favorit, membuat saya jadi pribadi yang memang benar-benar jarang keluar rumah. Akrab dengan kesendirian di tengah keramaian, lebih suka menulis untuk menemukan solusi dibanding harus curhat ke orang lain, lebih suka berinteraksi dengan sedikit orang dibanding banyak orang sekaligus.

Bertemu Lelaki Sang Petualang

Sampai akhirnya, bertemu dengan lelaki yang suka berpetualang alam, naik gunung, jalan-jalan ke pantai, arung jeram, dan segala kegiatan adventure lainnya. Lelaki ini yang akhirnya menjadi suami saya, dan secara bertahap menggeser pola *anak rumahan* saya selama ini.

Uniknya, suami meski suka travelling dan menjajal aneka hal baru, tapi nyatanya ia lebih introvert daripada saya, lebih sulit mengungkapkan segala ekspresinya melalui kata-kata. Beda dengan saya, yang meski anak rumahan banget, ternyata berlaku sebaliknya. Ya, barangkali ini yang orang bilang, jodoh. Seperti botol dengan tutupnya, saling melengkapi.

Dari sejak menikah, dari tanggal dimana itu adalah hari pernikahan kami, suami sudah mengajak saja bertualang. Ya, petualangan pertama, ke tempat yang tidak kami rencanakan sebelumnya. Lepas akad & resepsi, suami langsung mengajak saya ke satu kota di Jawa Barat, disinilah kami menghabiskan sekitar 2-3 hari, menikmati masa-masa bulan madu sebagai pasangan yang baru saja menikah.

Kebiasaan ini, nyatanya terus berlanjut saat punya anak. Suami sering mengajak travelling tanpa rencana, atau dengan rencana yang cukup dadakan, 1-3 hari sebelum keberangkatan. Seperti saat kami travelling ke Bromo ataupun lokasi-lokasi wisata sebelumnya, yang sayangnya belum sempat saya dokumentasikan melalui sosial media ataupun blog.

Abadikan Cerita Perjalananmu, Sesedikit Apapun!

Dengan beberapa travelling yang kami sekeluarga lakukan, sebenarnya saya begitu menyesal, karena beberapa diantaranya tidak terekam dengan baik. Jika hanya melalui sosial media, paling hanya sekelumit saja, sementara melalui blog, bisa bebas berkata-kata dan lebih mencakup banyak aspek detail tiap perjalanan.

Seperti foto yang suami upload di media sosialnya beberapa tahun lalu saat Ical, anak pertama kami masih balita. Awalnya bahkan saya tidak mengenali, ini sebenarnya ada dimana? Lalu, ketika melihat bangunan tinggi menjulang di belakang saya dan Ical berdiri, baru saya ngeh, ini sewaktu kami ke Kaliurang, salah satu objek wisata di Jogjakarta.


Hanya saja, karena tidak tertuang dalam tulisan, saya pun lupa, gimana rangkaian cerita waktu itu, apa saja yang kami lakukan waktu itu, semuanya semacam hilang tak berbekas begitu saja dari memori saya. Duh kan, sayang banget!

Inilah kenapa, sejak beberapa tahun lalu, saya berkomitmen, bahwa yang namanya perjalanan itu layak diabadikan melalui tulisan di blog. Kenapa blog? Karena ini dunia saya, salah satu passion dimana saya menuangkan ide-ide menulis saya.

Sering ketika ada teman yang tanya, semisal "Na itu kemarin kamu waktu di Tawangmangu nginep dimana?". Karena saya sudah punya tulisannya, langsung saja kasih link, dan yang butuh informasi bisa dengan jelas membacanya.

Apakah suatu ketika, tulisan-tulisan di blog akan berbuah jadi buku? Entahlah, saat ini saya ikut mengerjakan beberapa antologi dulu, serasa masih belum sanggup untuk menuangkan dalam bentuk buku sebagai penulis utama dan satu-satunya. Mungkin belum sekarang, mungkin nanti.

Pastinya, selama saya masih terus diberikan nafas, saya akan terus menuliskan perjalanan baik itu ke tempat wisata ataupun sekedar menjajal kuliner baru di suatu tempat. Bagaimanapun juga, secuil apapun kisah yang kita punya, sangat layak untuk dituliskan kembali ceritanya.

Ini juga kenapa, saya membuat blog ini, khusus menuliskan tiap jalan-jalan dan makan-makan yang kami sekeluarga lalui. meski sudah ada blog lainnya, tapi saya ingin mengkhususkan cerita travelling dan kuliner berada di blog Saddha Story ini. Semoga yang membacanya pun bisa enjoy dengan tulisan yang saya buat, sama seperti saat saya enjoy menulisnya 💚

You Might Also Like

10 comments

  1. Ditunggu postingan jalan-jalannya ya, mbak. Pasti seru deh ^^

    ReplyDelete
  2. Kalo baca blog yang isinya jalan-jalan gni...nyenengin

    ReplyDelete
  3. Bakal jadi rujukan kalo mau traveling. Semangaaat mba

    ReplyDelete
  4. Aku juga suka nulis diary, dulu 2002 kalau ga salah kenal Blogspot ya diary online aku pikir hahaha

    Ternyata sampai sekarang sudah ada blogger profesi tetep aku jadiin blog sebagai tempat curhat hahahhaa

    Emang kalau liburan seharusnya ditulis, jadi catatan gitu.

    ReplyDelete
  5. Acara jalan-jalan ga akan abis serunya untuk diceritain. Semangat nulis ya kak!

    ReplyDelete
  6. Asyiknyaa... jadi penasaran cerita-cerita jalan-jalannnya.. kayaknya seru..

    ReplyDelete
  7. Toss kita mbak. Aku juga lagi mulai nulis cerita perjalanan keluarga kami. Seneng jalan2, tapi poto2nya cuma disimpen gitu aja. Sayang ya. Semoga tulisan di blog Keluarga Dolan, bisa dibaca anak-anak kami nanti.

    ReplyDelete
  8. Bener banget nih. Biasanya setelah kita jalan2, lama kemudian kita bisa lupa. Menulis perjalanan juga menjadi bukti sejarah bahwa kita pernah ke banyak tempat. Cerita2 yang pernah dijalani sering kali terlupakan jika tidak ditulis.

    ReplyDelete