Skip to main content

Naik KRL Commuter Line Bersama Anak? Perhatikan 5 Hal Ini!

Liburan akhir tahun 2018 kali ini, cukup berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau biasanya kami sekeluarga memakai kendaraan pribadi, untuk tahun ini, karena sumpahhh males banget ngadepin aneka kemacetan yang ada, maka kami memiih untuk menggunakan transportasi umum.

Kereta adalah pilihan saya dan suami untuk mengajak anak-anak menuju tempat wisata yang kami kunjungi. Bogor dan Wisata Kota Tua merupakan tujuan kami sekeluarga untuk mengeksplorasi KRL Commuter Line, fasiitas warga ibukota, yang suami sendiri pun sekalipun bertahun-tahun tinggal di Jakarta, tapi belum pakai transportasi ini sebelumnya.


Sebelum naik KRL ini, sempatlah saya khawatir, gimana ya nanti? Apalagi jika penuh sesak manusia di dalamnya, nanti anak-anak gimana dong? Deh, ini nih kuatnya pikiran manusia, suka mikir macam-macam dan aneh-aneh dulu. Padahal kalau sudah dijalanin juga baik-baik saja.

Alhamdulillah perjalanan kami ke Bogor maupun ke Kota Tua memakai KRL Commuter Line, berjalan lancar. Anak-anak sempat merasakan berdiri dari stasiun Klender Baru hingga Manggarai. Ini pun mereka bisanya terkantuk-kantuk. Sasha bersandar di perut Ayahnya, Ical di punggung Ayahnya. Hahaha, tetap nyaman yaaaaa meski dalam kondisi yang bisa jadi kurang nyaman buat sebagian orang. Bahkan ketika perjalanan ke Bogor, anak-anak juga tertidur lelap di kursi yang Alhamdulillah bisa kita dapatkan setelah transit.


Nah, buat yang ingin memakai jasa transportasi KRL Commuter Line Jabodetabek, terutama membawa anak-anak, boleh perhatikan beberapa hal berikut ini yuk, supaya perjalanan tetap nyaman:

1. Kartu/ Tiket Kereta
Saat membayar tiket kereta KRL, kita menggunakan kartu tertentu yang bisa kita beli di tiket counter stasiun. Kalau kita punya kartu e-TOLL mandiri atau Flazz BCA, bisa juga kita pakai, jangan lupa pastikan saldo cukup. Nah 1 kartu itu hanya bisa untuk 1 orang. Itulah kenapa meski saya sudah punya kartu e-TOLL dan suami dengan kartu Flazz BCA, kami tetap harus membeli kartu yang tersedia di counter untuk Ical & Sasha. Tapi jangan khawatir, itu kartu bisa kita kembalikan lagi ketika sudah selesai perjalanan, dan uang juga dikembalikan, hanya berkurang di saldo naik kereta saja.

2. Gunakan Tas Ransel
Selama bepergian memakai KRL, akan lebih nyaman dengan kita menggunakan tas ransel. Apalagi bawa anak-anak, segala keperluan mereka bisa kita masukkan ke dalam tas. Ohiya, pastikan juga letakkan tas di depan bukan di punggung, supaya lebih aman. Dompet & handphone juga masukkan saja ke dalam tas di bagian dalam. Bagian terluar tas, misal ada kantong di luarnya, hanya untuk menaruh tisue atau barang-barang yang tidak berharga. Pokoknya mah, jangan sekali-kali letakkan hape di saku celana, pengalaman adik ipar saya, hape lenyap ketika ditaruh di saku celana saat perjalanan pulang dari kantor naik commuter line.

3. Gunakan Sepatu Kets
Usahakan pakai sepatu kets, hindari sandal atau alas kaki terbuka, karena mudah terinjak. Terutama untuk anak-anak, yang pastinya akan ikut lari-larian atau minimal jalan cukup cepat ketika anak naik kereta, belum lagi berdesak-desakan, dengan menggunakan sepatu tertutup maka akan lebih aman. Lalu kenapa sepatu kets? Karena empuk tentunya, membuat kaki kita lebih nyaman berjalan dengan langkah yang cepat.

4. Bawa Air Putih
Selama bawa anak-anak, pastikan bawa air putih yang cukup. Karena di kereta tidak diperbolehkan makan ataupun minum, kita bisa ajak anak-anak minum sebelum dan setelah naik kereta.

5. Gunakan Kursi Prioritas
Di dalam KRL Commuter Line, sebenarnya sudah tersedia Kursi Prioritas, yaitu untuk ibu hamil, lansia dan anak-anak. Tapi kadang kejadian juga, di gerbong yang kita naiki, penuh sesak luar biasa, sampai-sampai kursi prioritas pun sudah penuh oleh target kursi tersebut. Nah kalau sudah begini, memang kita yang ajak anak-anak menikmati suasana saja. Jangan panik, jangan sewot. Nanti ketika ada penumpang di kursi prioritas turun, baru bisa kita gunakan.

Di Stasiun Jakarta Kota, Sebelum Mengunjungi Wisata Kota Tua

Kuncinya sih, nikmati perjalanan memakai KRL dengan suka cita. Toh, anak-anak pun akan belajar hal yang baru dan menantang. Hal yang baru itu tidak harus selalu mewah dan menyenangkan kan?

Comments

  1. Mba Inna and the geng panutanque, pengen banget nih nanti sama anak-anak dan paksu ngeteng kayak gini kemana-manaa. Ngelihatnya kok seru yaaa hahaha

    ReplyDelete
  2. Liburan kemarin saya juga anak-anak naik kereta. Mereka senangnya bukan main. Kebetulan gerbongnya nggak begitu penuh, jadi bisa duduk nyaman. Terima kasih tips nya mbak

    ReplyDelete
  3. Nunggu Dimas gedean dikit dehhh baru berani ngajak anak-anak jalan naik kereta di Jakarta :).. Makasih tipsnya, mba Inna..

    ReplyDelete
  4. KRL ini andalanku jaman kuliah dulu, tiap hari bekasi-depok jadi anak RoKer. Sekarang udah rencana ngajak anak2 ngerasain naik KRL lagi ngelewati stasiun atas Manggarai-Kota, semoga taun ini bsai keturutan :)

    ReplyDelete
  5. Wah asik banget perjalanannya ya mbak. Anak hepi, emaknya ikut Hepi 😍

    ReplyDelete
  6. Saya punya kartu etoll mandiri tapi belum pernah kepake buat naik KRL. Yah kudu ke Jakarta dlu ya mbak klo mau menjajal sensasi KRL. Btw tiati mbak bawa barang bawaan klo lagi rame2nya di KRL. Takut2 klo ada pencopet hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mic BM 800, Cocok Buat NgeVlog!

Tanpa terasa, project ngeVlog bareng anak-anak mulai masuk bulan ke-3. Sebenarnya sudah kami mulai sekitar 2 tahun lalu, tapi belum terlalu rutin upload kontennya. Barulah 2 bulan belakangan ini, minimal 1 minggu sekali ada materi video baru yang bisa ditonton.

Dengan mengusung nama SADDHA STORY, channel youtube ini berisi tentang 3 materi utama sebagai berikut:
1. Wisata Kuliner atau Makan-Makan
2. Piknik atau Jalan-Jalan
3. Lagu Anak/ Lagu Nasional/ Lagu Daerah
Fokus channel Saddha Story yang digawangi langsung oleh Ical & Sasha ini memang lahir sebagai bentuk keprihatinan, banyaknya channel youtube yang dibawakan anak-anak, tapi isinya kurang ramah anak. Misal hanya sekedar lucu-lucuan saja, tanpa ada unsur edukatifnya.

“Mengupayakan Bahagia” ala Manda Panda

Romantisnya sebuah hubungan suami istri itu seperti apa?
Apakah harus berupa mesra sepanjang waktu? Apakah dengan kirim bunga? Ataukah dengan mengingat hari ulang tahun pasangan dan pernikahan lalu melakukan segala sesuatu bersama di momen spesial tersebut?
Manda dan Panda, begitulah sebutan pasangan ini di dunia maya. Awalnya saya hanya kenal dengan Manda yang kebetulan kami bergerak di komunitas yang sama. Berteman di sosial media, membuat saya “diam-diam” mengenal Panda dalam tiap postingan Manda di sosial medianya. Dari sinilah, saya akhirnya juga tahu bahwa keduanya sering upload kegiatan travellingnya, baik di dalam maupun luar negeri. 
Manda dan Panda, mengukuhkan diri mereka sebagai Indonesian Couple Traveller, setelah sebelumnya jauh di masa mereka masih dalam status “pacar”, suka menikmati kuliner bersama.
Bicara tentang pasangan sehidup semati, bicara tentang dalamnya cinta seorang istri pada suami ataupun sebaliknya, Manda dan Panda adalah salah satu sosok pasangan yang saya k…

Berani Membeli Mimpi Ala Hastin Pratiwi

Impian? Bisa dibeli memangnya? Dengan apa?
Bagi sebagian orang, barangkali sudah terlalu lelah bermimpi, letih berharap dengan segala cita-cita yang belum kesampaian. Tapi tidak bagi seorang Hastin Pratiwi. Tiwi nama panggilannya, seorang single mom untuk Lubna putri tercintanya. 
Sekitar 15 tahun lalu, Tiwi pernah bermimpi untuk bisa ke tanah suci, tepatnya untuk melaksanakan ibadah haji. Iya, sebuah perjalanan spiritual. Sebuah travelling untuk mendekatkan diri ke Ilahi. Suatu saat, pernah mendapatkan kabar memenangkan uang 60 juta dari sebuah undian. Hal ini sudah membuat Tiwi berharap bisa berangkat ke tanah suci dengan uang tersebut. Tapi sayangnya, itu hanya penipuan.
Lalu apakah Tiwi berhenti bermimpi? Nyatanya tidak. Selain terus melakukan aktivitasnya sebagai IRT, freelance writer dan editor, hari-harinya yang sebagian besar dipenuhi dengan kegiatan bersama anak dan bejibun artikel yang dilahapnya, Tiwi menyadari bahwa sebuah impian itu layak untuk diperjuangkan.

Melalui Buku Ipp…