Wednesday, September 18, 2019

Kuliner Sekitar Pasar Kranggan Jogjakarta Yang Wajib Kamu Datangi!

Pasar Kranggan, pasar yang dekat dengan pusat kota Jogjakarta ini memang letaknya sangat strategis. Setiap orang lewat, pasti bisa langsung mengindentifikasi, "Oh ini pasar'. Meski kehadiran pasar ini juga termasuk yang bikin macet di area jalan raya sekitarnya, maklum parkir yang menumpuk dan kadang butuh 2-3x berputar sampai mendapatkan parkir yang diinginkan.

Pasar yang sudah ada sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda ini semacam selalu hidup. Ramai oleh pengunjung dari pagi mulai menjelang. Dari orang-orang yang mencari kebutuhan sembako, sayur mayur, bahkan koleksi fashion pun bisa kita dapatkan disini. Di area belakang pasar juga ada penjual aksesoris handphone, serta pernak-pernik aksesoris dengan harga cukup murah.




Yang menarik dari Pasar Kranggan yang sangat dekat dengan lokasi dimana Tugu Jogja ini berada, adalah kulinernya. Beragam jajanan berderet baik di area depan hingga dalam pasar.

Pasar Kranggan Jogjakarta, source: detik(dot)com

Beberapa kuliner yang menarik perhatian saya yang pertama dan utama adalah TOKO MADEN. Toko yang menyediakan aneka roti, kue dan jajanan pasar ini memang cukup terkenal namanya. Turun dari parkiran, langsung tanya ke tukang parkir, pasti tahu dimana letak dan arah menuju ke toko tersebut. Saya sendiri, sejak jaman sekolah sering diajak Ibu kesini, dan siomay adalah salah satu makanan yang saya buru. Beda banget rasanya dengan siomay yang pernah saya makan. Bahkan ini makannya bukan dengan bumbu kacang seperti biasa, ada saos tomat tersendiri dan bisa kita cocok. Duh sayangnya pas saya terakhir kesana ngevlog bareng Ical si sulung, pas gak ada siomaynya, jadi gak ada penampakannya deh.

Nah depan Toko Maden persis, ini ada yang jualan lauk pauk, seperti oseng kikil, aneka olahan ayam dan telur, bihun, capcay, oseng teri sampai ke oseng jengkol pun ada. Bener-bener jos gandos pokoknya rasanya! Sayangnya lokasi Pasar Kranggan ini agak jauh dari rumah Ibu saya di Jogja, jadi hanya sesekali aja kesini. Dan tiap ke Kranggan pasti langsung beli lauk pauk super endes ini. Kalau bisa datang lebih pagi, jam 7-8 pagi, saat lauk masih banyak dan lengkap. Kalo diatas jam 10-11 pagi, jangan harap bisa dapet si oseng teri yang auto bikin nambah nasi terus iniiii! :D

Thursday, August 22, 2019

Liburan Ke Bromo, Menginap Dimana?

"Bun, ke Bromo yuk", ujar suami sekitar 2-3 hari pasca lebaran tahun 2019 ini.

Ya hayuklahhh, masa saya nolak :D

Ayahnya Ical dan Sasha ini memang suka surprise begini. Seringnya kalau mau liburan, suka dadakan. Di satu sisi, seneng pastinya. Di sisi lain, artinya harus gedubrukan nyiapin segala persiapannya. Langsunglah hari itu, suami booking hotel dan saya sibuk dengan persiapan packing, mau baju apa saja. WA ke Mbak Ria, seorang sahabat yang pernah pergi ke Bromo, "Mbak, itu sedingin apa di Bromo", tanya saya. "Pokoknya dingin banget mba, aku ama anakku double jaket aja masih dingin banget".

Ok fix, berarti harus cari jaket, yang tebal. Beberapa sudah ada, beberapa sewa di tempat yang biasa untuk sewa alat-alat camping, dan yang punya Sasha mau gak mau harus beli, karena di persewaan hanya ada ukuran remaja hingga dewasa.

Tibalah saatnya berangkat ke Bromo, kali ini kami mampir dulu ke Magetan, di rumahnya Mas Priyo, teman suami ketika masih kuliah S2 di HI UGM. Lanjut ke Bromo jam 3 sore dan bisa ditebak, sampai Bromo pasti sudah malam.

Hotel Cemara Indah, Bromo

Sesampai di area Bromo, kami segera ke hotel dimana kami sekeluarga menginap, apalagi waktu itu Sasha sejak dari meninggalkan kota Magetan, kurang enak badan, beberapa kali muntah di dalam perjalanan. Karena sudah terlalu malam dan saya juga fokus dengan kondisi kesehatan Sasha, maka saya kurang terlalu fokus untuk mengambil foto suasana kamar. Ini adalah foto yang saya ambil di website resmi Hotel Cemara Indah.

pic: cemaraindahhotel.com

Seperti gambar inilah kamar kami, sengaja pilih yang tipe standard, karena memang di Hotel Cemara Indah ini hanya untuk transit saja, sebelum dini harinya kami menuju puncak Bromo. Ya paling tidak begitulah rencananya.

Meskipun akhirnya rencana tidak berjalan semulus perkiraan awal, karena Sasha masih muntah beberapa kali, maka yang naik jeep dan ikut tour Bromo hanya Ical & Ayahnya, Bunda & Sasha stay di Hotel Cemara Indah.

pic: bromoguide.com

Pagi hari saat sarapan, saya mengajak Sasha keluar kamar supaya bisa menghirup sejuknya udara pegunungan, sambil mencicip menu sarapan. Gak ada yang spesial sebenarnya dari menunya, dan saking saya juga masih concern dengan kondisi Sasha, jadilah saya kelupaan buat motret suasana di tempat makannya, tapi kurang lebih seperti inilah restoran di Hotel Cemara Indah - Bromo.

pic: ostrovok.ru
Barulah setelah sarapan selesai, saat saya & Sasha menikmati suasana sekitar hotel yang ternyata bisa langsung memandang ke arah Bromo, disinilah baru saya ambil foto. See, bisa terlihat kan, kalo di Hotel Cemara Indah ini memang benar-benar dekat ke Bromonya, bahkan view Bromo tampak cukup jelas penampakannya dari arah hotel.

Sasha sedih, gak bisa ikut tour ke puncak Bromo karena masih sakit :(
Sedih banget sebenernya, karena liburan ke Bromo ini, bisa dibilang gagal gak sesuai rencana semula. Padahal awalnya Sasha udah hepi banget pengen bisa jalan-jalan dan naik gunung pertama kali. Bunda juga bener-bener fokusnya ke Sasha supaya lekas pulih, jadi tidak banyak foto-foto yang diambil saat menginap di Hotel Cemara Indah ini.

Selebihnya, Ical yang juga mengaku sempat sedih karena gak bisa bareng adiknya menikmati keindahan Bromo, so far menjadi cukup terobati terutama setelah melihat sunrise di Bromo. Meski menurut cerita Ical, karena banyak kabut, jadi sunrisenya tidak terlalu kelihatan.

Wednesday, August 14, 2019

Pantai Drini, Riwayatmu Kini

Sekitar awal tahun 2019 ini, saat masih tinggal di Jogkakarta, kami sekeluarga menyempatkan diri untuk main ke pantai. Secara kalau diingat-ingat lagi, terakhir benar-benar menikmati suasana pantai itu sudah lebih 5 tahun lalu. Dan benar saja ketika melihat file foto-foto yang diupload di sosmed, terakhir ke pantai itu memang sudah lama sekali, waktu Sasha masih bayi. 

Sebenarnya, saat masih tinggal di Jogjakarta, akses ke pantai itu sangat mudah dan lebih dekat. Tapi memang, ketika musim liburan tiba, perjalanan menuju ke pantai yang kami pengen itu luar biasa macetnya. Ya, ke pantai di daerah wonosari, gunungkidul jogjakarta. Kenapa pilihannya pantai-pantai di deretan wonosari? 

Karena memang terkenal dengan pasirnya yang putih serta pemandangannya mempesona. Sejuta harapan dan ingatan yang masih ada di kepala, bahwa pantai-pantai di wonosari itu cantik! Tanpa pikir panjang, tanpa riset dulu, kami sekeluarga berangkat dari kawasan Sleman Jogjakarta di pagi hari sebelum jam 7 pagi, supaya bisa menikmati pantai lebih lama dan belum terlalu terik karena siang hari dan terik matahari.

Sesampai di lokasi, kaget dong! Kondisi pantai sudah amat sangat berbeda dengan terakhir kami kesana. Pantai yang kami pilih juga sama seperti tahun 2013, yaitu Pantai Drini, yang berdekatan dengan Pantai Indrayanti dan berderet dengan Pantai Baron, Krakal, Kukup yang terkenal terlebih dahulu.

Sorry to say, pantainya cenderung kumuh. Terlalu banyak aksesoris tidak alami yang terpampang di depan mata. Tenda-tenda payung lengkap dengan tikar yang siap disewa pengunjung pantai. Kano yang memang secara fungsi wisata ini keren banget, tapi secara estetika keindahan pantai, ini bikin enggak banget.


Pasirnya? Duh ini yang paling ngenes, pasir warnanya sudah tidak seputih dulu, cenderung lebih hitam dan kotor. Bisa dibandingkan dari kedua foto yang saya kolase ini, foto di tahun 2013 dan 2019. Di tahun 2013, masih leluasa untuk foto gaya apapun, bisa ambil landscape indahnya pantai Drini, sampai bersihnya pasir yang memanjakan mata. Yang di tahun 2019? Duh penuh dengan payung-payung yang sebenarnya payungnya memang cantik tapi *too much* untuk berada di sekitaran pantai yang harusnya dijaga kemurniannya.

Alhasil, kami harus cari trik saat mencari angle foto supaya foto tetap indah dipandang. Suami bilang, supaya fotonya dengan background air lautnya, supaya tidak bocor dengan payung ataupun pasir yang kurang cantik.

Thursday, January 31, 2019

Wisata Kota Tua Jakarta, Ada Apa Saja?

Wisata ke Kota Tua jakarta, artinya bersiap dengan pemandangan eksotis yang membuat kita terpukau dengan arsitektur bangunan tempo dulu.  Apalagi ketika mengunjungi kawasan ini saat musim liburan, seperti saat saya beserta suami dan anak-anak, pengunjung membludak membanjiri kawasan ini.

wisata bersejarah kota tua jakarta

Stasiun Jakarta Kota, Gerbang Menuju Wisata Kota Tua Jakarta

Sama seperti perjalanan ke Bogor, kali ini kami sekeluarga juga menggunakan kereta Commuter Line menuju stasiun Jakarta Kota. Sesampai di stasiun ini, saya cukup terpukau dengan aneka hiasan di dalam stasiun yang masih mempertahankan desain jaman dulu. Ini jarang saya temukan di stasiun lain yang sudah banyak terjamah modernitas. Ya meski tidak bisa dipungkiri, di stasiun Kota Tua juga berjejer resto siap saji yang menggoda lidah para penumpang kereta yang hilir mudik di sepanjang stasiun.

stasiun jakarta tua, mempertahankan eksotisme masa lalu

Bisa dibilang, stasiun jakarta tua ini sebagai salah satu gerbang menuju wisata kota tua. Karena dari stasiun ini, kita cukup berjalan kaki saja menuju aneka wisata di kota tua. Melewati kerumunan pedagang dan manusia yang berjubel, inilah yang membuat kita juga tetap waspada, terutama dengan bawaan yang ada dan juga anak-anak yang ikut serta.

Daya Tarik Wisata Kota Tua

Lalu, apa sebenarnya yang menjadi daya tarik dari wisata kota tua bersejarah yang berlokasi di jakarta barat ini? Meskipun tempat ini berada di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, tapi tetap saja punya pesona tersendiri yang memukau banyak orang, termasuk saya, suami dan anak-anak.

Tuesday, January 22, 2019

Anak Excited Saat Wisata Museum? Apa Triknya?

Ketika Ical masih balita, saya dan suami mengajaknya mengunjungi Museum Ullen Sentalu di kaliurang jogjakarta. Waktu itu, meski terlihat antusias, Ical yang masih belum bisa baca, tentu saja menikmati museum dengan caranya.

Sekitar kelas 2-3 SD, saya dan keluarga besar jalan-jalan dalam rangka libur lebaran. Salah satu yang kami kunjungi adalah Museum Soeharto di Dusun Kemusuk, Bantul. Disini, Ical yang sudah bisa membaca, benar-benar mengamati hampir satu demi satu kalimat yang tertulis di dalam museum. Bahkan, setelah sampai pintu luar, Ical minta masuk lagi. Lalu ia pun masuk lagi, dan membaca informasi yang terlewatkan.

Keluar dari pintu Museum, ia pun memberondong saya dengan banyak pertanyaan. Wajah cerah karena mendapat wawasan baru, dan rasa penasaran karena masih ada segudang tanda tanya, membawa diskusi tersendiri buat saya dan Ical ketika sudah berada di rumah.

pintu masuk museum zoologi bogor
Hingga sekarang Ical berusia 11 tahun, beberapa Museum sudah dikunjungi, dan reaksinya tetap sama. Antusias. Selalu tidak ingin melewatkan informasi yang ada di dalam Museum dan juga membaca detail apapun yang tersaji di dalamnya.

Dan tentu saja, berakhir dengan segumpal pertanyaan dan mengajak saya diskusi tentang apa yang sudah dilihatnya di dalam Museum.

Thursday, January 17, 2019

WIsata Kuliner Halal di Jalan Suryakencana Bogor

Setiba di Bogor akhir bulan November lalu, saat pergi hanya berdua dengan suami, maka sesampai stasiun lanjut jalan kaki ke Onih hotel tempat kami menginap. Istirahat dan sholat Ashar sebentar, lalu mulai hunting kuliner Bogor.

Mmm kemana ya?

pintu gerbang jalan suryakencana bogor
Setelah searching, maka kami pun menuju kawasan Pecinan yaitu di jalan Suryakencana. Tentu di kawasan Pecinan ini menawarkan aneka kuliner baik halal maupun tidak halal. Bahkan beberapa tempat makan, memberi informasi di pintu masuk, bahwa tempatnya tersebut hanya menjual makanan halal.

Meski sudah makan siang di rumah, saat perjalanan dari Jakarta ke Bogor, rupanya meski belum tiba waktunya jam makan malam, saya dan suami sudah kelaperan aja nih. Mungkin faktor jalan kaki dari stasiun ke hotel, terus dari hotel ke jalan Suryakencana. Ya kira-kira 2-3 kilometer. Nah gimana mau kurus, kalori baru aja terbakar maksimal, udah mau diisi lagi :P

Ya, tapi kan baru liburan nih, masa gak menikmati makanan khas di Bogor ini? *uhuk* *alesan*

Baiklah, saya lanjutkan cerita hunting makanan di jalan Suryakencana ini ya?

Soto Kuning "Pak Yusup"

Dengan menyusuri trotoar dan berbekal info google serta arah dari gmaps, maka kami mencari tempat makan yang banyak direkomendasikan, yaitu Soto Kuning Pak Yusup. Kalau kita kurang jeli, banyak juga penjual soto kuning lainnya. Tapi dari banyak artikel yang saya baca, yang versi Pak Yusup inilah yang memang paling dicari pelancong.

soto kuning pak yusup bogor
Rasa sotonya memang enak, ya meski kalau dibandingkan soto ala Jogja, lidah saya butuh waktu untuk menyesuaikan. Sotonya terbilang ringan alias tidak dengan bumbu yang berat dan beraneka. Sederhana tapi nikmat.

Wednesday, January 16, 2019

Kebun Raya Bogor, Lokasi Instagramable Yang Tetap Kekinian!

Terakhir wisata ke Kebun Raya Bogor itu, ketika saya masih balita. Samar-samar banget lah gimana penampakannya. Yang saya ingat, ya kebun raya bogor itu luasssss!

Sampai kemudian di akhir November, suami dan saya jalan-jalan ke wisata Bogor yang cukup terkenal ini. Berduaan aja? Wah iya nih, tanpa anak-anak. Yaa semacam second honeymoon ala-ala gitu deh, hahaha.

Mengitari kebun raya bogor, meski tidak seluruhnya, tetep aja bok lumayan capeknya. Tapi semua terbayar dengan pemandangan yang tetap asri, hijau, dan sejuk. Jadi meski jalan lumayan jauh, tapi rasa ademmmmnya juga tetep dapet. Bahkan perjalanan ke hotel maupun stasiun pun, kami lakukan dengan berjalan kaki selama di Bogor.

Menikmati Kebun Raya Bogor, berduaan dengan suami, artinya jangan sampai lewatkan pepotoan ala-ala cover boy dan cover girl majalah Aneka :P

Beginilah hasil jepretan (sebagian suami), karena saya kalau ambil foto gak pernah bener, wkwkwkwk. Hanya bermodal smartphone aja nih, tanpa tongsis/ monopod.


Setelah bepergian berduaan saja ke Kebun Raya Bogor, maka kami juga ingin mengajak anak-anak menikmati wisata yang masih terbilang otentik ini. Duh, jarang-jarang loh di negeri kita tercinta ini, menemukan tempat piknik yang masih aselik! Ya meski ada beberapa penjual di dalam kebun raya, tapi so far saya bilang lumayan tertib, hanya di lokasi tertentu, tidak sembarangan.

Friday, January 11, 2019

Review Hotel Bogor Dibawah 1 Juta, Mana Yang Paling Recommended Untuk Keluarga?

Sekitar akhir bulan november 2018, saya dan suami tanpa terencana pergi ke Bogor. Yes, kali ini tanpa anak-anak. You can call it as second honeymoon. Setelah bertahun-tahun melakukan travelling selalu paket komplit, yaitu saya, suami, Ical dan Sasha, kepergian kami berdua ke Bogor ini rupanya menjadi perjalanan yang menghasilkan ide untuk liburan akhir tahun sekeluarga.

Sebagai pasangan suami istri, ya memang kadang perlu sesekali liburan berdua, menikmati suasana berdua. Tapi tetep, lebih seru itu ketika perginya bersama duo bocah yang makin hari makin kritis. Menggunakan moda transportasi yang sama, yaitu Kereta Commuter Line Jabodetabek, yang sebelumnya saya dan suami juga pakai saat ke Bogor berdua, maka saat pergi berempat pun kami berkereta ria menuju Bogor.

Berangkat dari stasiun Klender Baru, transit sebentar di stasiun Manggarai, lalu kami berempat sedikit berlari-larian ketika kereta menuju Bogor menunjukkan sinyal segera berangkat.

Liburan dengan konsep Backpackeran, dimana saya, suami, dan anak-anak, kami semua memakai ransel untuk membawa bawaan masing-masing. Kecuali Sasha yang hanya membawa beberapa cemilan, dan baju masuk di tas ransel Ayahnya.

Saat pergi berdua bersama suami, kami menginap di Onih Hotel Bogor, tapi karena melihat kamar kurang luas, maka saat bersama anak-anak kami memilih hotel di seberangnya, yaitu Sahira Hotel. Bahkan secara mengejutkan di hari kedua, suami mengajak kami pindah ke Hotel Salak untuk menginap semalam lagi.

Thursday, January 3, 2019

Naik KRL Commuter Line Bersama Anak? Perhatikan 5 Hal Ini!

Liburan akhir tahun 2018 kali ini, cukup berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau biasanya kami sekeluarga memakai kendaraan pribadi, untuk tahun ini, karena sumpahhh males banget ngadepin aneka kemacetan yang ada, maka kami memiih untuk menggunakan transportasi umum.

Kereta adalah pilihan saya dan suami untuk mengajak anak-anak menuju tempat wisata yang kami kunjungi. Bogor dan Wisata Kota Tua merupakan tujuan kami sekeluarga untuk mengeksplorasi KRL Commuter Line, fasiitas warga ibukota, yang suami sendiri pun sekalipun bertahun-tahun tinggal di Jakarta, tapi belum pakai transportasi ini sebelumnya.


Sebelum naik KRL ini, sempatlah saya khawatir, gimana ya nanti? Apalagi jika penuh sesak manusia di dalamnya, nanti anak-anak gimana dong? Deh, ini nih kuatnya pikiran manusia, suka mikir macam-macam dan aneh-aneh dulu. Padahal kalau sudah dijalanin juga baik-baik saja.

Alhamdulillah perjalanan kami ke Bogor maupun ke Kota Tua memakai KRL Commuter Line, berjalan lancar. Anak-anak sempat merasakan berdiri dari stasiun Klender Baru hingga Manggarai. Ini pun mereka bisanya terkantuk-kantuk. Sasha bersandar di perut Ayahnya, Ical di punggung Ayahnya. Hahaha, tetap nyaman yaaaaa meski dalam kondisi yang bisa jadi kurang nyaman buat sebagian orang. Bahkan ketika perjalanan ke Bogor, anak-anak juga tertidur lelap di kursi yang Alhamdulillah bisa kita dapatkan setelah transit.