Monday, December 3, 2018

Prolog Buku Solo Perdana

Di tengah masih bingung mau pakai judul yang mana, boleh ya saya sedikit banyak membeberkan tentang prolog buku yang Insyaa Allah bakal saya fokuskan penuntasan penulisannya.

Pastinya sebuah buku tanpa cerita dan hikmah itu bukan buku yang punya greget. Seberapa greget buku ini? Yaitu terletak pada untaian kata yang bisa membuat siapapun merasa gembira dengan apa yang dialami oleh nara sumber yang saya wawancarai, ataukah ikut merasa begitu sesak dadanya karena kecewa yang dirasakan hingga rasa sedih yang cukup dalam, dengan emosi yang kurang lebih sama dengan apa yang sesungguhnya terjadi.

Travelling pada dasarnya memang membawa seseorang, sekeluarga ataupun beberapa orang merasakan yang namanya kebahagiaan. Tapi ternyata, travelling buat sebagian orang, bukan hanya kebahagiaan yang didapat, tapi juga ada esensi perjuangan di balik perjalanannya.

Penulis Pemula, Gimana Cara Mempublikasikan Bukunya?

Dunia ngeblog saya sudah kenal cukup lama, tapi untuk penerbitan buku, saya masih buta sama sekali. Ada pun buku antologi pertama bersama teman-teman di komunitas tertentu pun, ini sudah ada yang mengurus.

Terus proyek buku solo ini gimana dong? Apa yang mesti saya kerjakan?

Kalau saya sih mikirnya simple aja sih, sekarang ini sudah banyak penerbit indie yang siap menampung dan menerbitkan kita, tentu dengan biaya tertentu. Nah kenapa muncul banyak buku antologi, karena biaya cetak ddan penerbitannya bisa ditanggung bersama-sama. Otomatis, ketika ini adalah buku solo, maka kita tanggung sendiri.

Besaran biayanya yang pernah saya tahu di range Rp 200.000,00, untuk yang lainnya saya belum tahu persis berapa.

Untuk pemasarannya, tentu dengan cara yang sudah teman-teman penulis lakukan yaitu melalui online terutama sosial media.

Konsep Buku Solo Perdana, Akan Seperti Apa?

Di postingan sebelumnya, saya masih galau tentang judul apa yang tepat buat rencana buku yang akan saya buat.

Mmm, kira-kira judul apa yang tepat untuk sebuah buku yang berisi tentang travelling, sekaligus perjalanan yang ditempuh seseorang untuk menuju suatu tempat. Sebuah travelling ataupun perjalanan yang bukan sekedar tujuan senang-senang dan hura-hura, tapi juga ada hikmah mendalam di dalamnya.

Seperti misal kompaknya suami istri yang belum dikaruniai anak, dan memilih bahagia dengan rutin travelling setiap tahun. Perjalanan umroh seorang single mom dari rezeki yang datang dengan tidak disangka-sangka. Ataupun cerita seorang anak yang mengayuh sepeda belasan kilometer untuk menuntaskan cita-citanya. Serta aneka cerita perjalanan lain yang mampu menyentuh hati.

Dalam beberapa kali wawancara dengan nara sumber yang akan saya tampilkan dalam buku ini, para narsum ini berujar terharu dan tersentuh dengan apa yang saya tuliskan tentang diri mereka.

Bikin Buku Solo? Hayuk Aja!

Duluuu banget, pengen bikin buku. Seiring berjalannya waktu, sepertinya ini bukan prioritas saya lagi. Sampai suatu ketika, saya bergabung dengan beberapa komunitas penulis dan blogger. Rupanya marak sekali, munculnya buku-buku terutama antologi. Yaitu semacam buku yang isinya dikerjakan bersama-sama, ada beberapa penulis dalam 1 buku.

"Seru juga nih project buku antologi", pikir saya beberapa waktu lalu, terutama saat melihat beberapa sahabat yang kebetulan juga seorang penulis artikel, sudah melahirkan buku antologi untuk kesekian kalinya.

Hingga datanglah masanya, dalam satu komunitas yang saya ikuti, menawarkan siapa saja yang tertarik untuk ikut dalam proyek pembuatan buku antologi, bisa segera mengirimkan naskahnya. Tanpa pikir panjang lagi, lalu pun saya kerjakan, dan saat ini sedang menunggu masa-masa untuk diterbitkan. Yes, Bismillah, that would be my first book. Antologi gak masalah, tetap itu adalah sebuah karya.

Ya siapa tahu, suatu saat kesempatan untuk membuat buku solo atau minimal duet bisa terealisasi. Meski dengan beberapa target blog yang sedang saya kerjakan, berikut dengan vlog SADDHA STORY bersama kedua anak saya, kadang pikiran berasa penuh. Mana nih yang mau dikerjakan duluan. Tapi selama itu adalah passion, saya pasti akan kerjakan dengan sepenuh hati. Yaaa kepontal-pontal dikit tak apaa yaaa? :D

Saturday, December 1, 2018

Sepeda Onthel Penebus Impian

Kisah perjalanan ini bermula dari sebuah sepeda tua.

Ada yang hobby naik sepeda mungkin? Hobby artinya hanya untuk having fun, jalan-jalan, refreshing, bisa juga untuk menunjang kebutuhan olahraga?

Apa jadinya ketika sebuah sepeda mengantarkan seorang anak desa hingga menjadi sosok yang sukses seperti sekarang ini?

Pic: olx


Iya, anak ini, namanya Iwan Prasetyo. Akrab dipanggil Iwan. Lahir dan besar di Purworejo, dengan kondisi keluarga pas-pas-an, membuatnya tumbuh menjadi anak yang kuat.

Mengayuh sepeda menjangkau 9 kilometer untuk menuju SMP idamannya, 13 kilometer untuk sampai ke SMA unggulan tempatnya menimba ilmu. Ini ukuran kilometer dari berangkatnya saja, belum pulangnya. Bisa membayangkan? 

Hidup dalam keluarga yang amat sederhana, bahkan mungkin jauh dari kata sederhana, membuat Pak Tukiran, Bapak kandung dari Iwan, bekerja semaksimal mungkin untuk menghidupi keluarganya. Adalah Growol, salah satu makanan khas Purworejo, yang selalu Pak Tukiran beli di pasar ketika hari sabtu atau minggu.

pic: okezone.com

Jatah growol ini untuk makan satu minggu. Beras? Kadang ada, kadang tidak. Melalui cerita Iwan, Bapaknya ini pernah berujar, gak penting makannya apa, yang penting anak-anak bisa sekolah. 


Doc: Iwan Prasetyo

Saat SMA, Iwan pernah berdiskusi dengan guru BP di sekolah, disarankan untuk masuk di sekolah tinggi yang punya ikatan kedinasan, supaya biaya kuliah lebih murah dan bisa saja gratis. Tapi ini bukan cita-cita seorang Iwan. 

Iwan kecil, dulu pernah ingin menjadi tukang listrik, pernah terbersit juga pengen jadi tukang telkom, karena kebetulan SMPnya bersebelahan dengan kantor Telkom. Artinya gak pernah dalam bawah sadarnya, ingin masuk ke sekolah kedinasan. Tapi apakah mungkin, tetap mengejar impiannya masuk di PTN sesuai dengan bidang yang ia mau?

Bapaknya hanya berpesan supaya Iwan tidak terlalu memikirkan hal tersebut, fokus saja sekolah, nanti pasti ada jalannya sendiri.

Ternyata memang, kegigihan dalam meraih cita ditambah dukungan dari keluarga dan teman-teman, luar biasa efeknya pada kesuksesan seseorang. 


"Mau maju, artinya harus mau prihatin”, begitu Iwan berujar menyampaikan ulang pesan Bapaknya.

Proses keprihatinan ini, yang membawa seorang Iwan lulus UMPTN, masuk perguruan tinggi negeri favorit di jurusan yang memang ia inginkan.

Perjalanan Iwan mengayuh sepeda melintasi desa-desa di Purworejo sejauh belasan kilometer, hampir setiap hari, kecuali Minggu saat libur sekolah, tentu membuatnya menjadikannya sosok yang sabar dan kuat.

“Pernah itu pas puasa, pulang sekolah, sepeda bocor, gak ada duit buat nambal ban, akhirnya kutuntun sepeda sampai rumah”, cerita Iwan. Padahal, masih setengah perjalanan lagi menuju rumahnya, artinya sekitar 6-7 kilo jalan kaki dengan menuntun sepeda.

Saya menuliskan ini, seperti saya pernah menonton film Si Doel Anak Sekolahan, yang akhirnya berhasil menjadi Tukang Insinyur. Iwan, sahabat yang saya kenal sejak SMA, punya cerita hampir sama, sama-sama penuh perjuangan demi meraih cita-citanya. Demi pendidikan yang diinginkan.

Sekarang Iwan, sudah berumah tangga, dengan 4 bidadari cantik yaitu istri dan ketiga anak-anaknya yang berada di sampingnya. Alhamdulillah hidup mapan, pekerjaan juga mapan. 


Sepertinya klise ya ceritanya, dari susah menjadi senang, dari orang biasa menjadi orang hebat. Tapi percayalah, jika itu cerita dari teman atau sahabat terdekat, bisa membuat kita tercekat beberapa saat, sambil bergumam, ternyata sebegitu menginspirasinya perjalanan hidupnya.

Kisah Iwan dan sepedanya, yang mengantarkannya hingga lulus SMA, menjadi asisten dosen di tempat kuliahnya di UGM, bisa jadi contoh anak-anak lain di negeri ini. Siapa pun punya kesempatan merubah nasibnya.

Perjalanan Iwan dengan sepedanya, yang bisa jadi bagi orang lain terkesan hanya buat jalan-jalan biasa ataupun hanya untuk senang-senang, nyatanya menjadi titik awalnya menemukan dan memperkuat jati dirinya.

“Aku cuma pengen Ibuku masak pake kompor Na, gak pake kayu lagi”, ucapan Iwan beberapa tahun lalu saat kami sering bertukar pikiran masa kuliah dulu.

Kisah Iwan dan sepeda onthel yang sangat berjasa ini membuka mata hati saya, bahwa hidup seseorang memang dirinyalah sendiri yang menentukan mau dan akan seperti apa. Bukan hanya mengganti alat masak Ibunya dengan kompor, tapi Iwan berhasil menaikkan derajat keluarganya.

Meski Bapaknya sudah tiada, Iwan berusaha melanjutkan nilai dan petuah yang sudah didapatkannya semasa Bapaknya masih ada. Kenangan-kenangan membantu Bapaknya saat hari libur, ikut di sawah, membawa kerajinan bambu ke pasar untuk dijual, tentulah modal perjalanan hidup yang tidak bisa terganti dengan apapun.

Antara Iwan, sepeda onthel, perjalanan berkilo-kilo meter ke sekolah, serta sosok Pak Tukiran yang inspiratif, menjadikan saya bertanya ke diri saya sendiri,

“Apakah saya sudah punya suatu tujuan yang jelas dalam hidup ini? Apa saja yang sudah saya lakukan untuk menjemput harapan demi harapan 5-10 tahun dari sekarang?”