Skip to main content

Review Film: Kulari Ke Pantai

Perempuan dan seorang Ibu, melakukan perjalanan bersama putrinya dari Jakarta menuju Jawa Timur dengan nyetir sendiri?

Buat saya yang juga seorang Ibu, langsung berkenyit, bisa juga gak ya? 

Inilah yang ada dalam deretan scene film Kulari Ke Pantai, hasil pemikiran duo manusia kreatif yang tidak bisa kita ragukan lagi dalam industri perfilman Indonesia, yaitu Riri Reza dan Mira Lesmana. Ciri khas film buatan mereka berdua adalah membawa penontonnya ikut merasakan momentum jalan cerita yang ada dalam skenario filmnya.


Saya masih ingat benar, jaman kuliah dulu, rela ikut antri nonton film Petualangan Sherina. Bahkan sampai 2x nonton! Hahaha niat bener! Dari mulai lagu-lagunya, urutan detail scenenya, sampai hari ini pun, bisa dibilang 80-90% saya hapal. Iya, saking kerennya ini film, hingga mampu membuai saya yang selalu punya kriteria ruwet dan njlimet kalau mau nonton film, terutama di bioskop.


Setelah berbelas-belas tahun lamanya, saya belum pernah lagi menjumpai film buatan anak bangsa, yang bisa mengalahkan daya magis Petualangan Sherina. Hingga saya kembali nonton film besutan Miles Production ini. Ya, sayangnya lagi-lagi yang bikin tetap sama. Ada sih memang beberapa film anak yang muncul dari PH lain, tapi buat saya hanya sekedar membuat saya sekedar WOW saja, tanpa ada kesan ingin nonton lagi dan lagi dan terpesona dengan ceritanya meski film sudah entah kapan tayangnya. 

Kesan inilah yang juga saya dapatkan setelah menonton Film Kulari Ke Pantai, yang rilis akhir Juni 2018 ini. Jujur, saya sempat skeptis dengan perfilman Indonesia, karena materi skenario maupun angle pengambilan gambar hingga editingnya, kok gak beda dengan sinetron. Beberapa kali nonton film Indonesia, yang pernah digratisin sekalipun, kesan saya sama, “Lah ini cuman sinetron yang dipindah ke layar lebar”.

Kulari Ke Pantai, membuat saya sudah terhipnotis sejak scene pertama. Adegan serba pantai mendominasi film ini. Sudut pengambilan gambar yang fantastis, tone warna yang disajikan juga begitu memanjakan mata. 

Marsha Timothy, yang menjadi Ibu, juga berperan sangat apik & natural di film ini. Sam si anak yang begitu polos juga menambah film ini makin greget. Karakter unik ada pada Happy, sepupu Sam yang hidupnya serba kebule-bulean, dari mulai gaya bicara hingga gaya berpakaiannya. Baik Sam maupun Happy diperankan begitu cerdas oleh pendatang baru di industry perfilman Indonesia. 

Sam & Happy, melalui segala pasang surut hubungan persaudaraan dalam perjalanan darat mereka dari Jakarta menuju Banyuwangi. 

Kenapa Banyuwangi? Karena di kota ini, Sam ingin sekali bertemu dengan surfer idolanya. Iya, Sam adalah nama panggilan dari Samudra. Dia akan marah kalo dipanggil “Sem”, karena menurutnya namanya bukan nama kebule-bulean. Cukup SAM, pakai A.

Ibnu Jamil, Lukman Sardi, hingga Dodit “Stand Up Comedy” ikut hadir di film ini. Kehadiran para aktor ini mampu membuat penontonnya haru menahan tangis, sekaligus merasa geli karena adegan lucu yang mengundang tawa terpingkal-pingkal.

Anak sulung saya, Ical, awalnya gak mau diajak nonton film ini. Tipikal ayahnya banget, gak mau nonton film yang dikiranya genre drama “perempuan banget”. Tapi setelah film berjalan baru beberapa menit, Ical komentar: “Bagus ya Bun ternyata filmnya”.Nah kan? Pilihannya Bunda yang selalu perfeksionis dalam memilih film, pasti gak pernah salah! :D

Memang benar, film ini suguhan yang sangat menarik. Dengan konsep travelling, tentu saja lokasi yang dipilih begitu cantik. Pantai-pantai hingga Kawasan Bromo yang sangat indah, dikemas dengan jalan cerita yang membuat penasaran. 

Apakah perjalanan sosok Ibu, Sam & Happy ini bisa sampai ke Banyuwangi seperti tujuan awal? Ataukah jangan-jangan ada sebuah kejadian yang sangat menyentuh hingga membuat perjalanan ini tidak berakhir seperti harapan semula?

Mmmm kasih tau gak ya? Enggak aja kali ya, biar ikut penasaran seperti saya penasaran saat nonton film Kulari ke Pantai ini. Tapi kira-kira bakal tayang di stasiun televisi kita gak ya? Well, we’ll see J

Comments

  1. Wqwq nunggu ada di yutub aja deh ya 🙌🙈

    ReplyDelete
  2. Wah aku juga agak males nonton film indobsebenernya, beberapa kali kecewa. Padahal usmdah aku yakinin ini pasti filmnya bagus (pas liat trailernya) e ternyata mengecewakan.

    Tapi semoga film ku lari ke pantai nggak ya. Coba cari deh entar. Atau tunggu tahun baru hahaha. Biasanya kan sering muncul.

    ReplyDelete
  3. Seru, apalagi nontonnya bersama anak dan suami

    ReplyDelete
  4. Jadi kepo seseru apa filmnya😍 good job Mbak! 😁

    ReplyDelete
  5. Seriusan mbaa jadi pengen nonton. Sambil bayangin kira2 apa akan seseru petualangan Sherina 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo ini tanpa lagu lagu kek sherina, kita lebih dimanjakan dengan pemandangan yang cyakepppp

      Delete
  6. Makasi review-nya mba. Jadi penasaran sebagus apa filmnya 😊

    ReplyDelete
  7. Saya malah ga nonton film ini, alasannya sama, kayaknya drama gitu, tapi ternyata seru. Di hooq udah ada blm ya?

    ReplyDelete
  8. It makes me gonna see soon. Thx, sis.😄

    ReplyDelete
  9. Marsha timothy emang keren kalau main film. Kagum banget sama dia. 😭 belum nnton sih. Tapi dari baca ini, pengen nonton 😂😂😂

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mic BM 800, Cocok Buat NgeVlog!

Tanpa terasa, project ngeVlog bareng anak-anak mulai masuk bulan ke-3. Sebenarnya sudah kami mulai sekitar 2 tahun lalu, tapi belum terlalu rutin upload kontennya. Barulah 2 bulan belakangan ini, minimal 1 minggu sekali ada materi video baru yang bisa ditonton.

Dengan mengusung nama SADDHA STORY, channel youtube ini berisi tentang 3 materi utama sebagai berikut:
1. Wisata Kuliner atau Makan-Makan
2. Piknik atau Jalan-Jalan
3. Lagu Anak/ Lagu Nasional/ Lagu Daerah
Fokus channel Saddha Story yang digawangi langsung oleh Ical & Sasha ini memang lahir sebagai bentuk keprihatinan, banyaknya channel youtube yang dibawakan anak-anak, tapi isinya kurang ramah anak. Misal hanya sekedar lucu-lucuan saja, tanpa ada unsur edukatifnya.

“Mengupayakan Bahagia” ala Manda Panda

Romantisnya sebuah hubungan suami istri itu seperti apa?
Apakah harus berupa mesra sepanjang waktu? Apakah dengan kirim bunga? Ataukah dengan mengingat hari ulang tahun pasangan dan pernikahan lalu melakukan segala sesuatu bersama di momen spesial tersebut?
Manda dan Panda, begitulah sebutan pasangan ini di dunia maya. Awalnya saya hanya kenal dengan Manda yang kebetulan kami bergerak di komunitas yang sama. Berteman di sosial media, membuat saya “diam-diam” mengenal Panda dalam tiap postingan Manda di sosial medianya. Dari sinilah, saya akhirnya juga tahu bahwa keduanya sering upload kegiatan travellingnya, baik di dalam maupun luar negeri. 
Manda dan Panda, mengukuhkan diri mereka sebagai Indonesian Couple Traveller, setelah sebelumnya jauh di masa mereka masih dalam status “pacar”, suka menikmati kuliner bersama.
Bicara tentang pasangan sehidup semati, bicara tentang dalamnya cinta seorang istri pada suami ataupun sebaliknya, Manda dan Panda adalah salah satu sosok pasangan yang saya k…

Wonderful, Itulah Indonesiaku

Buka album foto-foto lama, ternyata e ternyata, isinya banyak juga yang serba jalan-jalan atau piknik ya? Indeed, kami memang keluarga traveller sejati ini, ya maksudnya siapa tahu ada yang mau endorse buat ke Raja Ampat atau Belitong gitu? Hahaha ngarepnya begitu.

Eh tapi diAMINin aja, ya kan? Semua hal itu tidak ada yang kebetulan, pasti ada niat atau terbersit di pikiran terlebih dahulu. Termasuk soal jalan-jalan ini. Wisata buat kami sekeluarga, rata-rata memang pakai niat dan rencana dan ternyata setelah dijalani selama beberapa tahun ini, kami lebih tertarik untuk mengunjungi lokasi-lokasi wisata negeri sendiri. Yang kalau kita bedah pun, gak bakalan habis-habis dari Sabang sampai Merauke.

Beginilah cara kami, menikmati pesona Indonesia. Dari mulai laut hingga pegunungan, semua kami suka. Makin alami tempatnya, makin eksotis tempatnya, makin menantang medannya, maka saya, suami dan anak-anak makin tertarik menjelajahinya.

Ini foto jaman belum ada Sasha, Ical masih berusia dibawa…