Monday, November 12, 2018

Review Buku: Keliling Asia, Memburu Cahaya

".....kini aku ingin memiliki tujuan yang jelas dalam setiap perjalanan. Bagaimana caranya? Tujuan baru ini mungkin bisa membuatku belajar lebih banyak..."
Sepenggal cuplikan kalimat inilah yang langsung menarik minat saya, untuk memboyong buku karya Tary Lestari yang berjudul "Keliling Asia, Memburu Cahaya.


Tary adalah seorang penulis cerpen, novel, artikel perjalanan dan juga skenario. Karya-karyanya juga sudah menghiasi beragam media di Indonesia, salah satu yang cukup terkenal adalah ikut sebagai tim penulis skenario sinetron televisi Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

Buku yang diberi label "Travel Diary" ini memang berisi perjalanannya ke kota-kota di negara-negara Asia dari Xi'an hingga Hochiminh, dimana sang penulis menemukan banyak cerita dari budaya masing-masing lokasi yang dikunjunginya, berikut dengan indahnya sisi kemanusiaan yang ia temukan.
Tersesat, adalah salah satu hal yang selalu muncul dalam tiap chapter di buku ini. Wajar saja, siapapun di tempat yang sangat baru, dengan bahasa yang benar-benar berbeda, namanya nyasar bisa saja terjadi. Kebetulan Tary ini dalam tulisannya menyebutkan tidak menggunakan google maps, karena ia tidak mengaktifkan nomor operator di negara ia singgah. Jadilah peta adalah pemandu utamanya.

Bertanya ke penduduk lokal dengan bahasa lokal yang sebagian besar tidak mampu bahasa Inggris, pastinya sebuah kendala tersendiri. Kadang cukup tertolong dengan bahasa tubuh atau suara-suara tertentu, namun terkadang tidak.

Hanya saja, somehow di tengah rasa cemas, lapar, bingung, sang penulis hampir selalu mendapatkan bantuan dari para penduduk lokal yang beberapa diantaranya bisa berbahasa Indonesia.

Tujuan perjalanan Tary, sang travel writer ini, mulanya hanya sekedar jalan-jalan, tapi di suatu ketika, ia menemukan jati diri dari setiap travellingnya, yaitu menemukan masjid. Terutama masjid tertua ataupun tertua di kota yang ia singgahi.

Butuh perjuangan, dan tidak mudah. Sempat dikejar anjing, sempat diganggu lelaki iseng, dan aneka hambatan lainnya. Tapi inilah yang menjadi titik indahnya travel diary yang disusunnya.

Perjalanan sama saja seperti kehidupan, kadang kala mulus, kadang juga ada gronjalan. Disinilah penulis menemukan cahaya. Memburu cahaya untuk kesegaran jiwa dan imannya. Seperti saat ia bertemu dengan nenek tua baya, yang hidup di sebuah rumah kumuh dekat pemakaman umum. Nenek ini hidup sebatang kara setelah ia memutuskan menjadi mualaf.

Membaca travel diary ini, membuat saya ikut tersentuh dengan perjalanan si penulis. Bahkan keindahan kota-kota yang diceritakannya, meskipun saya tahu itu begitu mempesona, tapi cerita dari sisinya yang lain, membuat buku ini sangat manusiawi.

Seperti apa saja keindahan yang bisa kita ikut rasakan dalam buku ini? Pastikan baca juga yuk! :)


32 comments:

  1. Jadi pengen baca, kayaknya seru. 😄

    ReplyDelete
  2. Wahh seruu yahh..akupun jd mau baca

    ReplyDelete
  3. Kisah Perjalanan yang syarat makna jadinya ya

    ReplyDelete
  4. Selalu suka sama buku traveling 😍😍😍

    ReplyDelete
  5. Buku traveling gini, bikin pengen jalan-jalan. . :D

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. Iya banyak sisi manusiawi yang bisa kita pelajari

      Delete
  7. Ah senang ya bisa traveling sambil menemukan sesuatu yang berarti. Menjadikan traveling bukan sekedar jalan2 biasa. Alhamdulillah 😊

    ReplyDelete
  8. Nunggu dijadiin film ah nih buku, nanti tinggal ntn filmnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha iyaaa lebih praktis dinikmati kalo dibikin film ya

      Delete
  9. Racuuun ah jadi pingin punya bukunya. Penyakit dah kalau baca resensi jadi mupeng pingin beli buku.

    ReplyDelete
  10. Traveler menemukan buku travel diary. Seru donk.

    ReplyDelete
  11. Travelling yang sarat dengan faedah, seru banget jadi pengen baca

    ReplyDelete
  12. Wah ini nih keren. Kayaknya bakal nangis kalo baca ini. Dan nyasar itu sebenernya malah mengantar kita ke petualangan baru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benerrrr, ada petualangan di dalam petualangan 😘

      Delete
  13. Negaranya mana aja, Mbak??? Penasaraan 😆😅

    ReplyDelete
  14. Wahh keren nih reviewnya, jadi penasaran sama bukunya. 😍😍 hampir mirip bukunya agustinus Wibowo ya

    ReplyDelete