Friday, November 9, 2018

Emak Ranseller

Sejak beberapa minggu terakhir ini, saya cukup sering bolak-balik Jogja-Jakarta kisaran 2-3 hari setiap minggunya, untuk mengerjakan proyek dubber & sandiwara radio. Otomatis sebagai emak-emak anak 2 yang dua-duanya sudah sekolah, harus putar otak, cari cara, supaya segala sesuatu tetap berlangsung dengan aman sentosa.

Mulai dari menyiapkan terlebih dulu apa saja yang perlu anak-anak bawa ke sekolah selama saya pergi 2-3 harian, siapa yang bisa antar jemput anak-anak secara biasanya semua saya handle semuanya, hingga pernak-pernik lain yang anak-anak butuhkan selama saya tidak di rumah.

Setelah semua delegasi dan rekomendasi tugas di rumah beres, saya lanjut memikirkan diri saya, terutama dengan pergi hanya beberapa hari saja dan tanpa anak-anak, maka saya tidak butuh koper ataupun tas yang terlalu besar.

Selama ini koleksi di rumah, adalah tas koper kalo untuk bepergian, karena 90% perginya pasti bareng anak-anak. Nah, kali ini artinya beda ceritanya, saya harus mempersiapkan ala saya, ala emak-emak yang mau kerja keluar kota. Kalo kata orang sih, nama bekennya, Business Traveller. Halah, saya kan tidak sedang mengerjakan bisnis. Saya itu ke Jakarta dalam rangka menyalurkan hobby cuap-cuap saja kok :D

Bicara tentang tas, untuk sehari-hari di Jogja pun, saya jarang pake tas wanita, macam hand bag, tote bag, dll. Malah bisa dibilang sekarang gak punya. Lebih seneng tas slempang bahan kanvas begitu, macam anak kuliahan. Maka ketika pilihan apa yang saya bawa untuk ke Jakarta ala Emak Traveller atau Emak Backpackeran, adalah Tas Ransel.




Tas ransel pertama cukup besar, isinya baju-baju yang saya pakai selama di Jakarta. Satunya lagi tas ransel yang agak kecil, ini lebih untuk mobiling. Naik gojek (go ride) kemana-mana, otomatis saya harus cari tas yang simple, ringkas, tapi tetap aman & nyaman untuk naro segala isinya.

Saat memilih tas ransel pun, saya juga memilih dengan bahan yang ringan, tapi tetap tahan/ kedap air. Karena isinya segala peralatan tempur, yang jadi sumber penghasilan :D



Dari mulai laptop, charger, smartphone, power bank, segala macem kabel. Tentu saja dompet, tisue, mukena, materi recording. Bedak & body mist juga dibawa, meski jarang juga dipakai akhirnya. Hanya pas butuh aja. Lipstik? Duh, sekarang ini jarang banget pake, jadi hampir gak pernah saya taro di tas.

Ransel, jadi sahabat terbaik selama saya bekerja sebagai freelancer di Jakarta. Beratnya pas dan bikin gak perlu bingung mau taro di pergelangan atau taro di pundak saat wara-wiri kesana kemari. Cukup gemblokin ke punggung, beresss!

Ayo ayooo siapa disini yang statusnya Emak-Emak dan masih suka pake ransel kek saya? :)

15 comments:

  1. Ya ampun mbaa, kece bangeet sih mba. Sukaaa ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Percayalah ketika ransel itu penuh dan berat, maka derajat kekecean langsung berkurang 60% ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

      Delete
  2. Saya masih suka pake ransel mba lebih nyaman

    ReplyDelete
  3. Saya mbak. Biarpun emak emak seperti aya, ransel masih menjadi tas favorit saya. Setiap hari naik sepeda motor, ransel lebih aman menurut saya

    ReplyDelete
  4. Akuuuuuu.. tas ransel itu muat banyak dan gak capek hahaha

    ReplyDelete
  5. Kalah saya sebagai anak muda, tas dari smp itu itu mulu saya๐Ÿ˜‚bner emak emak gaul ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu ganti ransel karena ransel saya SMP yang uda dipake ampe bulukan itu uda jeboll mas ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

      Delete
  6. Sama mbaaaaa, *walau belum emak"* saya tetep cinta ransel. Nyaman aman dan sehat pula.

    Oh ya, btw saya jadi kepo kepo sedikit mba, mba dubber? :3 dari dulu saya kagum sama job ini

    ReplyDelete