Monday, November 19, 2018

Wonderful, Itulah Indonesiaku

Buka album foto-foto lama, ternyata e ternyata, isinya banyak juga yang serba jalan-jalan atau piknik ya? Indeed, kami memang keluarga traveller sejati ini, ya maksudnya siapa tahu ada yang mau endorse buat ke Raja Ampat atau Belitong gitu? Hahaha ngarepnya begitu.

Eh tapi diAMINin aja, ya kan? Semua hal itu tidak ada yang kebetulan, pasti ada niat atau terbersit di pikiran terlebih dahulu. Termasuk soal jalan-jalan ini. Wisata buat kami sekeluarga, justru fokus ke indahnya alam Indonesia.

Dari mulai laut hingga pegunungan, semua kami suka. Makin alami tempatnya, makin eksotis tempatnya, makin menantang medannya, saya, suami dan anak-anak makin tertarik menjelajahi.

Ini foto jaman belum ada Sasha, Ical masih berusia dibawah 5 tahun. Waktu itu piknik tanpa suami, karena suami masih kerja di luar Jawa yang memang tidak bisa membawa keluarga. Jadilah kami piknik ramai-ramai bersama Eyang dan Budhe ke Taman Buah Mekarsari. Di taman ini, kita bisa mengeksplor aneka tanaman dan buah-buahan dari seluruh Indonesia.


Saturday, November 17, 2018

Mic BM 800, Cocok Buat NgeVlog!

Tanpa terasa, project ngeVlog bareng anak-anak mulai masuk bulan ke-3. Sebenarnya sudah kami mulai sekitar 2 tahun lalu, tapi belum terlalu rutin upload kontennya. Barulah 2 bulan belakangan ini, minimal 1 minggu sekali ada materi video baru yang bisa ditonton.


Dengan mengusung nama SADDHA STORY, channel youtube ini berisi tentang 3 materi utama sebagai berikut:

1. Wisata Kuliner atau Makan-Makan

2. Piknik atau Jalan-Jalan

3. Lagu Anak/ Lagu Nasional/ Lagu Daerah

Fokus channel Saddha Story yang digawangi langsung oleh Ical & Sasha ini memang lahir sebagai bentuk keprihatinan, banyaknya channel youtube yang dibawakan anak-anak, tapi isinya kurang ramah anak. Misal hanya sekedar lucu-lucuan saja, tanpa ada unsur edukatifnya. 

Friday, November 16, 2018

Trik Macro Photography Murah Meriah!

Travelling dan fotografi, sepertinya sudah jadi satu paket yang gak bisa dilepaskan begitu saja. Dengan banyak eksplorasi ke banyak tempat, tentunya bikin makin gemes dengan aneka obyek foto yang dikunjungi.

Saya sendiri, termasuk yang agak males bawa kamera kemana-mana. Mau itu kamera pocket, DSLR, atau mirrorless, rasanya ribet gitu. Itulah kenapa, paling praktis pakai smartphone yang dipunya saja. Ya, meski secara resolusi atau ketajaman gambar kamera smartphone masih kalah dibanding kamera beneran, tapi lumayanlah kalau sekedar untuk menyalurkan hobby dan juga mengabadikan momen dengan cepat.

Dari banyak teknik fotografi yang ada, salah satu yang saya suka adalah Macro Photography. Yaitu suatu teknik fotografi yang hasilnya ini menyerupai ukuran aslinya. Satu banding satu. Obyek foto yang dituju memang biasanya serba kecil dan kadang hampir tidak kelihatan karena lokasinya yang sering kali nylempit alias tidak mudah diketemukan.

Obyeknya sendiri beragam, bisa mulai dari benda mati seperti lego, action figures serta obyek miniatur lainnya. Atau bisa juga berupa ragam flora dan fauna, dari mulai kepik, belalang, semut, lebah, hingga aneka tumbuhan dan juga bunga-bunga liar.

Berikut beberapa contoh foto makro yang saya ambil:

Thursday, November 15, 2018

GoJekin Aja!

Dulu tiap ke Jakarta, saya suka bingung, mau naik apa ya? Kadang cari ojek suka susah, gak tau dimana mangkalnya. Mau pake taksi? Haduh, lihat-lihat dulu, kalo lokasinya jauh, bisa tekorrrr lah. Mau naik bis? Kadang bisa, kadang juga harus ngejar waktu karena aktivitas berentetan.

Sejak mengenal ojek online beberapa tahun terakhir, aktivitas di seputaran Jakarta, ternyata amat sangat membantu. Saya yang bukan asli Jakarta, dan sebagian besar aktivitas masih berada di Jogjakarta, tentu tiap ke ibukota ini, masih saja gak begitu apal dengan rute jalan. Padahal ya dulu pernah kerja di Jakarta, tapi yang diapalin ya rute dari rumah kakak tempat saya tinggal pas masih kerja disana, sampai ke kantor. Udah itu aja!


Halah jangankan di Jakarta, di Jogja sini pun, kalo bukan ke jalan yang familiar, saya suka nyasar. Kalau saya bilang, malah saya itu semacam punya geo-weakness, istilah yang saya buat sendiri untuk melabeli diri saya yang suka nyasar gak ngerti arah.

Tuesday, November 13, 2018

Review Film: Kulari Ke Pantai

Perempuan dan seorang Ibu, melakukan perjalanan bersama putrinya dari Jakarta menuju Jawa Timur dengan nyetir sendiri?

Buat saya yang juga seorang Ibu, langsung berkenyit, bisa juga gak ya? 

Inilah yang ada dalam deretan scene film Kulari Ke Pantai, hasil pemikiran duo manusia kreatif yang tidak bisa kita ragukan lagi dalam industri perfilman Indonesia, yaitu Riri Reza dan Mira Lesmana. Ciri khas film buatan mereka berdua adalah membawa penontonnya ikut merasakan momentum jalan cerita yang ada dalam skenario filmnya.


Saya masih ingat benar, jaman kuliah dulu, rela ikut antri nonton film Petualangan Sherina. Bahkan sampai 2x nonton! Hahaha niat bener! Dari mulai lagu-lagunya, urutan detail scenenya, sampai hari ini pun, bisa dibilang 80-90% saya hapal. Iya, saking kerennya ini film, hingga mampu membuai saya yang selalu punya kriteria ruwet dan njlimet kalau mau nonton film, terutama di bioskop.

Monday, November 12, 2018

Review Buku: Keliling Asia, Memburu Cahaya

".....kini aku ingin memiliki tujuan yang jelas dalam setiap perjalanan. Bagaimana caranya? Tujuan baru ini mungkin bisa membuatku belajar lebih banyak..."
Sepenggal cuplikan kalimat inilah yang langsung menarik minat saya, untuk memboyong buku karya Tary Lestari yang berjudul "Keliling Asia, Memburu Cahaya.


Tary adalah seorang penulis cerpen, novel, artikel perjalanan dan juga skenario. Karya-karyanya juga sudah menghiasi beragam media di Indonesia, salah satu yang cukup terkenal adalah ikut sebagai tim penulis skenario sinetron televisi Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

Buku yang diberi label "Travel Diary" ini memang berisi perjalanannya ke kota-kota di negara-negara Asia dari Xi'an hingga Hochiminh, dimana sang penulis menemukan banyak cerita dari budaya masing-masing lokasi yang dikunjunginya, berikut dengan indahnya sisi kemanusiaan yang ia temukan.

Saturday, November 10, 2018

Maskapai Penerbangan Murah Tetap Jadi Idola?

"Yah, Bunda ambil Lion Air aja ya", tanya saya tadi pagi. "Jangan dulu", kata suami saya. "Lumayan yah, beda 200-300ribuan". "Udah gak papa", jawab suami.

Sejak terjadinya kecelakaan maskapai penerbangan Lion Air beberapa waktu lalu, dan bertepatan dengan aktivitas saya yang harus wara-wiri Jogja-Jakarta, ternyata membuat suami saya sedikit khawatir. Akkk ini saya bilang, co cweetttttt. Hahaha oke oke, kembali ke tema postingan ini.

Jadi biasanya saya berangkat naik pesawat, karena sekaligus biar cepat ke studio dubbing, dan menjaga stamina tetap oke, supaya hasil produksi suara juga tetap bagus. Sementara pulangnya, baru naik kereta ke Jogjakarta. Atau kadang kalo waktu mendesak, juga dua-duanya harus pakai pesawat.

Sebenarnya, saya gak begitu masalah mau memilih maskapai penerbangan yang mana. Ya, secara prinsip emak-emak lah ya, kalo lebih murah, lebih hemat, lebih baik. Kan lumayan bok, beda 200-300ribu itu bisa buat belanja isi dapur, bisa buat isi bensin, dan lain-lain.


Friday, November 9, 2018

Emak Ranseller

Sejak beberapa minggu terakhir ini, saya cukup sering bolak-balik Jogja-Jakarta kisaran 2-3 hari setiap minggunya, untuk mengerjakan proyek dubber & sandiwara radio. Otomatis sebagai emak-emak anak 2 yang dua-duanya sudah sekolah, harus putar otak, cari cara, supaya segala sesuatu tetap berlangsung dengan aman sentosa.

Mulai dari menyiapkan terlebih dulu apa saja yang perlu anak-anak bawa ke sekolah selama saya pergi 2-3 harian, siapa yang bisa antar jemput anak-anak secara biasanya semua saya handle semuanya, hingga pernak-pernik lain yang anak-anak butuhkan selama saya tidak di rumah.

Setelah semua delegasi dan rekomendasi tugas di rumah beres, saya lanjut memikirkan diri saya, terutama dengan pergi hanya beberapa hari saja dan tanpa anak-anak, maka saya tidak butuh koper ataupun tas yang terlalu besar.

Selama ini koleksi di rumah, adalah tas koper kalo untuk bepergian, karena 90% perginya pasti bareng anak-anak. Nah, kali ini artinya beda ceritanya, saya harus mempersiapkan ala saya, ala emak-emak yang mau kerja keluar kota. Kalo kata orang sih, nama bekennya, Business Traveller. Halah, saya kan tidak sedang mengerjakan bisnis. Saya itu ke Jakarta dalam rangka menyalurkan hobby cuap-cuap saja kok :D

Bicara tentang tas, untuk sehari-hari di Jogja pun, saya jarang pake tas wanita, macam hand bag, tote bag, dll. Malah bisa dibilang sekarang gak punya. Lebih seneng tas slempang bahan kanvas begitu, macam anak kuliahan. Maka ketika pilihan apa yang saya bawa untuk ke Jakarta ala Emak Traveller atau Emak Backpackeran, adalah Tas Ransel.


Thursday, November 8, 2018

Indomie Eksklusif di Warunk Upnormal

Warunk Upnormal, sebenernya di Jogja udah ada beberapa restonya, tapi belum kesampaian juga. Sampai akhirnya kemarin tanggal 7 November 2018, pulang dari Pelatihan Dubber di kawasan Jakarta Selatan, sambil menunggu Pak Suami yang masih kerja, saya melipir makan siang di Plaza Festival, sekalian melanjutkan tugas ODOP yang belum selesai.

Yes, tempat yang begitu luas, dengan aneka makanan, sempat membuat saya galau, mau makan apa nih. Mmm kadang terlalu banyak pilihan itu malah bikin kita bingung. Okelah, karena sudah jam 2 siang, dan sumpah laper banget setelah proses latihan dubbing berlangsung, maka saya mengambil resto yang ada di bilah terluar Plaza Festival. 


Warunk Upnormal, di jam 2 siang masih saja ramai, padahal hitungannya ini sudah bukan jam maksi. Atau orang-orang Jakarta kalau makan memang suka jam segini ya? Sebagian besar yang datang, minimal 2 orang dalam 1 group. Bahkan ada yang beramai-ramai. 

Wednesday, November 7, 2018

Smartphone Photo-Videography, Penting Banget Buat Traveller Blogger!

Seperti halnya nasi, ada nasi putih, nasi merah, nasi kuning, sampai ke nasi padang, hahaha. Eits, ini mau ngomongin apaan sih? Ini nih, maksudnya segala sesuatu di dunia ini, pastilah ada yang namanya perbedaan dan beragam varian.

Contohnya nasi yang udah saya sebutkan di awal kalimat, terus misal aneka minuman, dari hangat dan dingin dengan beraneka pilihan, jenis dan namanya.

Begitu pula dengan dunia ngeblog, ada beragam kategori blogger, yang biasanya dikelompokkan berdasarkan apa yang paling banyak dibahas atau ditulis di dalam blognya. Misal blog saya yang www.innaistantina.com, meski blog ini usianya udah 7 tahun, tapi isinya gado-gado, segala macam ada tuh. Dari parenting, jalan-jalan, makan-makan, puisi pun ada, psikologi, relationship, gadget, wes pokoke tumplek blek dalam 1 blog. Kalo istilahnya orang yang jualan, PALU GADA. Apa loe mau, guwe ada! :D

Blog yang ini, www.SaddhaStory.com, memang saya khususkan untuk mengupas tentang review  lokasi wisata dan kuliner. Nah blog dengan tipe ini, sering disebut dengan blog food & travelling, dan bagi si pelakunya disebut dengan Traveller Blogger atau Food Blogger. Tentunya selain membahas makanan dan minuman, juga menampilkan hal-hal yang berkaitan.

Apa saja misalnya yang berkaitan?

Ok gini gini, jadi ketika kita makan-makan atau mengadakan acara jalan-jalan, pastinya berkaitan dengan 1 hal penting. Yaitu Foto dan Video. Eh lah kok jadi 2. Hahaha. Kok pasti mba? Kan ada tuh yang gak suka juga videography, ribet!



Suka Makan-Makan? Suka Jalan-Jalan? Pilih Ngeblog atau Ngevlog?

Sejak aktif berkecimpung di dunia blogging kembali beberapa bulan ini, setelah sempat off beberapa tahun, saya menemukan beberapa hal yang menarik. Termasuk diantaranya adalah semakin maraknya blogger yang aware dengan konten foto dan juga video untuk blognya.

Kalo jaman awal ngeblog di tahun 2005 dulu, mungkin foto itu sekedarnya saja, atau cukup comot saja dari google, ternyata jaman sekarang blogger makin kreatif, dengan mengabadikan foto yang diambil sendiri untuk diupload di blog maupun sosial medianya.

Ya, meski sekarang juga masih banyak kok, yang memakai foto dari sumber tertentu sebagai pelengkap artikel di blognya. Gak masalah, yang penting jangan lupa memberikan nama sumbernya, pakai etika online yang baik dan benar. Gimanapun foto maupun video itu juga merupakan hasil karya.

Dengan terus melanjutkan aktivitas ngeblog yang makin lama makin menyenangkan, saya juga menantang diri sendiri untuk melebarkan sayap ke media yang lebih visual. Yes, yaitu VLog, atau Video Blog. 

Gak sendirian, saya ajak kedua anak saya, yaitu Ical & Sasha untuk ikut serta. Vlog sederhana saja, tentang jalan-jalan dan makan-makan. Nama channel youtubenya juga sama seperti yang tertera di blog ini, SADDHA STORY.

www.youtube.com/SaddhaStory
Kenapa memilih tema food & travelling? Bukannya udah banyak? Iya sih udah banyak, tapi belum banyak loh yang menggarapnya dengan serius dan profesional. Tsahhhhh! :D

Monday, November 5, 2018

Eksplorasi Negeri Sendiri Atau Jalan-Jalan Ke Luar Negeri?

Era serba mudah terbang kemana saja, baik dalam dan luar negeri ini, tampaknya membuat beberapa orang atau tepatnya beberapa keluarga, menjadi latah untuk makin sering jalan-jalan.

Yes, makin jauh perginya, makin kekinian lokasinya, makinlah strata sosial seseorang beserta dengan keluarganya, menjadi naik di mata para penikmat sosial media.

Ke luar negeri, siapa sih yang gak mau? Eh atau bener ada yang gak pengen? Mmm, saya sih dulu pengen banget, sekarang? Ya masih lah! Hahaha. Hanya saja sejak menikah dengan Pak Suami yang seorang adventurer sejati, hobby arung jeram sementara istrinya hobby motretin aja atau PakSu yang hobby naik gunung, saya milih makan di warung di kaki gunung :D

Oke oke, singkat cerita, sejak menikah dengan pria yang demen banget sama pemandangan alam ini, tanpa terasa nular juga ke saya. Hya hyaa hyaa, jadilah saya ikutan juga yang namanya arung jeram, tapi masih keki ditawarin naik gunung. Hwaaaa, gak kebayang gimana rasanya.