Monday, December 3, 2018

Prolog Buku Solo Perdana

Di tengah masih bingung mau pakai judul yang mana, boleh ya saya sedikit banyak membeberkan tentang prolog buku yang Insyaa Allah bakal saya fokuskan penuntasan penulisannya.

Pastinya sebuah buku tanpa cerita dan hikmah itu bukan buku yang punya greget. Seberapa greget buku ini? Yaitu terletak pada untaian kata yang bisa membuat siapapun merasa gembira dengan apa yang dialami oleh nara sumber yang saya wawancarai, ataukah ikut merasa begitu sesak dadanya karena kecewa yang dirasakan hingga rasa sedih yang cukup dalam, dengan emosi yang kurang lebih sama dengan apa yang sesungguhnya terjadi.

Travelling pada dasarnya memang membawa seseorang, sekeluarga ataupun beberapa orang merasakan yang namanya kebahagiaan. Tapi ternyata, travelling buat sebagian orang, bukan hanya kebahagiaan yang didapat, tapi juga ada esensi perjuangan di balik perjalanannya.

Penulis Pemula, Gimana Cara Mempublikasikan Bukunya?

Dunia ngeblog saya sudah kenal cukup lama, tapi untuk penerbitan buku, saya masih buta sama sekali. Ada pun buku antologi pertama bersama teman-teman di komunitas tertentu pun, ini sudah ada yang mengurus.

Terus proyek buku solo ini gimana dong? Apa yang mesti saya kerjakan?

Kalau saya sih mikirnya simple aja sih, sekarang ini sudah banyak penerbit indie yang siap menampung dan menerbitkan kita, tentu dengan biaya tertentu. Nah kenapa muncul banyak buku antologi, karena biaya cetak ddan penerbitannya bisa ditanggung bersama-sama. Otomatis, ketika ini adalah buku solo, maka kita tanggung sendiri.

Besaran biayanya yang pernah saya tahu di range Rp 200.000,00, untuk yang lainnya saya belum tahu persis berapa.

Untuk pemasarannya, tentu dengan cara yang sudah teman-teman penulis lakukan yaitu melalui online terutama sosial media.

Konsep Buku Solo Perdana, Akan Seperti Apa?

Di postingan sebelumnya, saya masih galau tentang judul apa yang tepat buat rencana buku yang akan saya buat.

Mmm, kira-kira judul apa yang tepat untuk sebuah buku yang berisi tentang travelling, sekaligus perjalanan yang ditempuh seseorang untuk menuju suatu tempat. Sebuah travelling ataupun perjalanan yang bukan sekedar tujuan senang-senang dan hura-hura, tapi juga ada hikmah mendalam di dalamnya.

Seperti misal kompaknya suami istri yang belum dikaruniai anak, dan memilih bahagia dengan rutin travelling setiap tahun. Perjalanan umroh seorang single mom dari rezeki yang datang dengan tidak disangka-sangka. Ataupun cerita seorang anak yang mengayuh sepeda belasan kilometer untuk menuntaskan cita-citanya. Serta aneka cerita perjalanan lain yang mampu menyentuh hati.

Dalam beberapa kali wawancara dengan nara sumber yang akan saya tampilkan dalam buku ini, para narsum ini berujar terharu dan tersentuh dengan apa yang saya tuliskan tentang diri mereka.

Bikin Buku Solo? Hayuk Aja!

Duluuu banget, pengen bikin buku. Seiring berjalannya waktu, sepertinya ini bukan prioritas saya lagi. Sampai suatu ketika, saya bergabung dengan beberapa komunitas penulis dan blogger. Rupanya marak sekali, munculnya buku-buku terutama antologi. Yaitu semacam buku yang isinya dikerjakan bersama-sama, ada beberapa penulis dalam 1 buku.

"Seru juga nih project buku antologi", pikir saya beberapa waktu lalu, terutama saat melihat beberapa sahabat yang kebetulan juga seorang penulis artikel, sudah melahirkan buku antologi untuk kesekian kalinya.

Hingga datanglah masanya, dalam satu komunitas yang saya ikuti, menawarkan siapa saja yang tertarik untuk ikut dalam proyek pembuatan buku antologi, bisa segera mengirimkan naskahnya. Tanpa pikir panjang lagi, lalu pun saya kerjakan, dan saat ini sedang menunggu masa-masa untuk diterbitkan. Yes, Bismillah, that would be my first book. Antologi gak masalah, tetap itu adalah sebuah karya.

Ya siapa tahu, suatu saat kesempatan untuk membuat buku solo atau minimal duet bisa terealisasi. Meski dengan beberapa target blog yang sedang saya kerjakan, berikut dengan vlog SADDHA STORY bersama kedua anak saya, kadang pikiran berasa penuh. Mana nih yang mau dikerjakan duluan. Tapi selama itu adalah passion, saya pasti akan kerjakan dengan sepenuh hati. Yaaa kepontal-pontal dikit tak apaa yaaa? :D

Saturday, December 1, 2018

Sepeda Onthel Penebus Impian

Kisah perjalanan ini bermula dari sebuah sepeda tua.

Ada yang hobby naik sepeda mungkin? Hobby artinya hanya untuk having fun, jalan-jalan, refreshing, bisa juga untuk menunjang kebutuhan olahraga?

Apa jadinya ketika sebuah sepeda mengantarkan seorang anak desa hingga menjadi sosok yang sukses seperti sekarang ini?

Pic: olx


Iya, anak ini, namanya Iwan Prasetyo. Akrab dipanggil Iwan. Lahir dan besar di Purworejo, dengan kondisi keluarga pas-pas-an, membuatnya tumbuh menjadi anak yang kuat.

Mengayuh sepeda menjangkau 9 kilometer untuk menuju SMP idamannya, 13 kilometer untuk sampai ke SMA unggulan tempatnya menimba ilmu. Ini ukuran kilometer dari berangkatnya saja, belum pulangnya. Bisa membayangkan? 

Hidup dalam keluarga yang amat sederhana, bahkan mungkin jauh dari kata sederhana, membuat Pak Tukiran, Bapak kandung dari Iwan, bekerja semaksimal mungkin untuk menghidupi keluarganya. Adalah Growol, salah satu makanan khas Purworejo, yang selalu Pak Tukiran beli di pasar ketika hari sabtu atau minggu.

pic: okezone.com

Jatah growol ini untuk makan satu minggu. Beras? Kadang ada, kadang tidak. Melalui cerita Iwan, Bapaknya ini pernah berujar, gak penting makannya apa, yang penting anak-anak bisa sekolah. 


Doc: Iwan Prasetyo

Saat SMA, Iwan pernah berdiskusi dengan guru BP di sekolah, disarankan untuk masuk di sekolah tinggi yang punya ikatan kedinasan, supaya biaya kuliah lebih murah dan bisa saja gratis. Tapi ini bukan cita-cita seorang Iwan. 

Iwan kecil, dulu pernah ingin menjadi tukang listrik, pernah terbersit juga pengen jadi tukang telkom, karena kebetulan SMPnya bersebelahan dengan kantor Telkom. Artinya gak pernah dalam bawah sadarnya, ingin masuk ke sekolah kedinasan. Tapi apakah mungkin, tetap mengejar impiannya masuk di PTN sesuai dengan bidang yang ia mau?

Bapaknya hanya berpesan supaya Iwan tidak terlalu memikirkan hal tersebut, fokus saja sekolah, nanti pasti ada jalannya sendiri.

Ternyata memang, kegigihan dalam meraih cita ditambah dukungan dari keluarga dan teman-teman, luar biasa efeknya pada kesuksesan seseorang. 


"Mau maju, artinya harus mau prihatin”, begitu Iwan berujar menyampaikan ulang pesan Bapaknya.

Proses keprihatinan ini, yang membawa seorang Iwan lulus UMPTN, masuk perguruan tinggi negeri favorit di jurusan yang memang ia inginkan.

Perjalanan Iwan mengayuh sepeda melintasi desa-desa di Purworejo sejauh belasan kilometer, hampir setiap hari, kecuali Minggu saat libur sekolah, tentu membuatnya menjadikannya sosok yang sabar dan kuat.

“Pernah itu pas puasa, pulang sekolah, sepeda bocor, gak ada duit buat nambal ban, akhirnya kutuntun sepeda sampai rumah”, cerita Iwan. Padahal, masih setengah perjalanan lagi menuju rumahnya, artinya sekitar 6-7 kilo jalan kaki dengan menuntun sepeda.

Saya menuliskan ini, seperti saya pernah menonton film Si Doel Anak Sekolahan, yang akhirnya berhasil menjadi Tukang Insinyur. Iwan, sahabat yang saya kenal sejak SMA, punya cerita hampir sama, sama-sama penuh perjuangan demi meraih cita-citanya. Demi pendidikan yang diinginkan.

Sekarang Iwan, sudah berumah tangga, dengan 4 bidadari cantik yaitu istri dan ketiga anak-anaknya yang berada di sampingnya. Alhamdulillah hidup mapan, pekerjaan juga mapan. 


Sepertinya klise ya ceritanya, dari susah menjadi senang, dari orang biasa menjadi orang hebat. Tapi percayalah, jika itu cerita dari teman atau sahabat terdekat, bisa membuat kita tercekat beberapa saat, sambil bergumam, ternyata sebegitu menginspirasinya perjalanan hidupnya.

Kisah Iwan dan sepedanya, yang mengantarkannya hingga lulus SMA, menjadi asisten dosen di tempat kuliahnya di UGM, bisa jadi contoh anak-anak lain di negeri ini. Siapa pun punya kesempatan merubah nasibnya.

Perjalanan Iwan dengan sepedanya, yang bisa jadi bagi orang lain terkesan hanya buat jalan-jalan biasa ataupun hanya untuk senang-senang, nyatanya menjadi titik awalnya menemukan dan memperkuat jati dirinya.

“Aku cuma pengen Ibuku masak pake kompor Na, gak pake kayu lagi”, ucapan Iwan beberapa tahun lalu saat kami sering bertukar pikiran masa kuliah dulu.

Kisah Iwan dan sepeda onthel yang sangat berjasa ini membuka mata hati saya, bahwa hidup seseorang memang dirinyalah sendiri yang menentukan mau dan akan seperti apa. Bukan hanya mengganti alat masak Ibunya dengan kompor, tapi Iwan berhasil menaikkan derajat keluarganya.

Meski Bapaknya sudah tiada, Iwan berusaha melanjutkan nilai dan petuah yang sudah didapatkannya semasa Bapaknya masih ada. Kenangan-kenangan membantu Bapaknya saat hari libur, ikut di sawah, membawa kerajinan bambu ke pasar untuk dijual, tentulah modal perjalanan hidup yang tidak bisa terganti dengan apapun.

Antara Iwan, sepeda onthel, perjalanan berkilo-kilo meter ke sekolah, serta sosok Pak Tukiran yang inspiratif, menjadikan saya bertanya ke diri saya sendiri,

“Apakah saya sudah punya suatu tujuan yang jelas dalam hidup ini? Apa saja yang sudah saya lakukan untuk menjemput harapan demi harapan 5-10 tahun dari sekarang?”


Friday, November 30, 2018

Berani Membeli Mimpi Ala Hastin Pratiwi


Impian? Bisa dibeli memangnya? Dengan apa?

Bagi sebagian orang, barangkali sudah terlalu lelah bermimpi, letih berharap dengan segala cita-cita yang belum kesampaian. Tapi tidak bagi seorang Hastin Pratiwi. Tiwi nama panggilannya, seorang single mom untuk Lubna putri tercintanya. 

Sekitar 15 tahun lalu, Tiwi pernah bermimpi untuk bisa ke tanah suci, tepatnya untuk melaksanakan ibadah haji. Iya, sebuah perjalanan spiritual. Sebuah travelling untuk mendekatkan diri ke Ilahi. Suatu saat, pernah mendapatkan kabar memenangkan uang 60 juta dari sebuah undian. Hal ini sudah membuat Tiwi berharap bisa berangkat ke tanah suci dengan uang tersebut. Tapi sayangnya, itu hanya penipuan.

Lalu apakah Tiwi berhenti bermimpi? Nyatanya tidak. Selain terus melakukan aktivitasnya sebagai IRT, freelance writer dan editor, hari-harinya yang sebagian besar dipenuhi dengan kegiatan bersama anak dan bejibun artikel yang dilahapnya, Tiwi menyadari bahwa sebuah impian itu layak untuk diperjuangkan.


Melalui Buku Ippho Santosa "Moslem Millionare", Tiwi menemukan ilmu sederhana untuk pencapaian impiannya ke tanah suci, yaitu berupa percepatan rejeki melalui sedekah, terutama umroh. Pernah hadir dalam seminar Ippho di Jogjakarta, Tiwi belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang besar, maka tidak bisa kita sembarangan juga dalam penyempurnaan ikhitiarnya. 

Wednesday, November 28, 2018

“Mengupayakan Bahagia” ala Manda Panda

Romantisnya sebuah hubungan suami istri itu seperti apa?

Apakah harus berupa mesra sepanjang waktu? Apakah dengan kirim bunga? Ataukah dengan mengingat hari ulang tahun pasangan dan pernikahan lalu melakukan segala sesuatu bersama di momen spesial tersebut?

Manda dan Panda, begitulah sebutan pasangan ini di dunia maya. Awalnya saya hanya kenal dengan Manda yang kebetulan kami bergerak di komunitas yang sama. Berteman di sosial media, membuat saya “diam-diam” mengenal Panda dalam tiap postingan Manda di sosial medianya. Dari sinilah, saya akhirnya juga tahu bahwa keduanya sering upload kegiatan travellingnya, baik di dalam maupun luar negeri. 
https://www.instagram.com/imasatrianto/

Manda dan Panda, mengukuhkan diri mereka sebagai Indonesian Couple Traveller, setelah sebelumnya jauh di masa mereka masih dalam status “pacar”, suka menikmati kuliner bersama.

Bicara tentang pasangan sehidup semati, bicara tentang dalamnya cinta seorang istri pada suami ataupun sebaliknya, Manda dan Panda adalah salah satu sosok pasangan yang saya kagumi. Tidak harus mengumbar mesra berlebihan, tidak harus menunjukkan hal-hal bombastis tentang rasa cintanya. 

Friday, November 23, 2018

Sneakers, Sahabat Terbaik Emak Traveller

Siapapun yang kenal saya dari masa sekolah dulu, pasti tahu kalau seorang Inna itu tomboi! Punya teman itu biasanya perbandingan 1:10. 1 perempuan dan 10 lelaki. 

Pernah sih sedikit bergaya feminin waktu magang 3 bulan di Departemen Luar Negeri saat masih kuliah dulu. Pakai rok lah, pakai sepatu cethok-cethok, pake jas ala-ala, sampai sedikit lipen memerah di bibir. Tapi apakah dengan berpenampilan lebih ke perempuan ini, menjadikan saya lepas attitude tomboinya? Sayangnya enggak, hahaha!

Itulah yang bikin saya gak bisa kerja di tempat yang harus mewajibkan memakai seragam dan sepatu tertentu. Pekerjaan yang saya pilih selama ini, selalu pekerjaan yang cukup bebas secara outfit. Meski saat kerja di Trans TV dulu ada pakai seragam hitamnya yang fenomenal dan hitz itu, tapi tetap kok kita para karyawan boleh pakai sneakers dan celana jeans. See, how fun is that? Terutama buat karakter seperti saya yang suka bekerja wara-wiri, sangatlah gak memungkinkan kalau harus pakai high heels. 

Eh tapi ada loh, senior saya yang pakai high heels cukup tinggi dan lancip. Kadang saya bayangin, itu high heels patah lah, atau nyangkut lah, secara menjadi pekerja TV yang kebanyakan di lapangan, gak bisa dong duduk diam manis. Mobiling terus, muterrrr terus.

Sampai menikah dan punya anak pun, gaya berpakaian saya, ternyata belum bisa berubah secara signifikan. Kemana-mana masih sering pakai yang serba praktis, nyangking ransel andalan dan tentunya sneakers kesayangan. 

Apa? Ibuk-ibuk pake sneakers? Loh why not? Enak tauk!

Thursday, November 22, 2018

Tips Nyaman Wisata Kuliner di Kopi Klothok Jogjakarta

Tips nyaman wisata kuliner di Kopi Klothok Jogjakarta?

Lah berarti gak nyaman gitu maksudnya? Eh gini-gini, jangan salah paham dulu, nanti saya dikeroyok sama para pecinta tempat makan Kopi Klothok yang dekat dengan area wisata Kaliurang di Jogjakarta ini.

Saya pernah nih 2x ke tempat ini. Pertama, waktu bareng ibu-ibu arisan, sesama wali murid saat Sasha masih TK dulu. Kedua, bersama suami dan anak-anak beberapa hari lalu.

Saat pertama datang ke tempat ini, september 2017, pagi hari kisaran jam 8-9an. Ya saat anak-anak sedang sekolah gitu lah ya kurang lebih. Kesan saya waktu itu, asyik banget lah tempatnya. Makananya juga ala-ala ndeso yang enak dan sedap. Sampai saya dan para ibu-ibu ini sempet-sempetnya foto-foto ala yoga di tempat tersebut. Gak banget ya? Hahaha. But we had fun actually!


Nah nah, sejak september tahun lalu itu, saya selalu cerita ke suami betapa asyik dan serunya makan di Kopi Klothok ini. Akhirnya baru kesampaian beberapa hari lalu ini. Dan ternyataaaa

Beginilah penampakannya....

Wednesday, November 21, 2018

Travelling, Bikin Anak Makin Cerdas

"Sekolah kuwi nggo ajar mikir (sekolah itu untuk belajar berpikir)", begitu ungkap bapak saya almarhum saat saya masih SMP di Semarang dulu.
Pesan yang singkat ini, ternyata salah satu pesan terakhir beliau yang benar-benar saya ingat hingga berpuluh-puluh tahun kemudian.

Saya yang waktu itu masih SMP, bisa jadi gak mudeng, apa maksud dari pesan bapak tersebut. Tapi setelah melampaui naik turun dalam hidup ini, barulah saya ngeh. Oooo ini ternyata!

Ternyata apa?

Ternyata salah satu maksud bapak tentang sekolah sebagai tempat belajar berpikir, ada benar benarnya juga. Pelajaran-pelajaran di sekolah, memang tidak bisa kita pungkiri 80-90% muatannya adalah mengolah otak kiri. Seperti berhitung dan menghapal. Sementara otak kanan yang melatih kreativitas, intuisi serta daya imanginatif terlihat masih sangat kurang.

Berpikir dalam konteks pesan bapak, adalah bagaimana kita mengandalkan logika. Berlatih menggunakan akal untuk mengatasi setiap elemen kehidupan, baik itu mulai dari anak sekolah yang belajar menyelesaikan soal-soal ujian hingga para manusia dewasa dengan segala rutinitas yang kadang butuh pemikiran lebih.


Mengajak anak-anak bermusik, ngeVlog dan juga mengembangkan minat bakat mereka, adalah salah satu cara untuk menajamkan otak kanan. Atau lebih tepatnya, menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan. Iya, otak kiri sudah terlalu capek dengan bejibunnya materi pelajaran di sekolah. Masa di rumah, kita masih harus membebani lagi?

Tuesday, November 20, 2018

Sehat, Syarat Wajib Family Traveller

Liburan ke Puri Asri Magelang dengan jelajah Sungai Progo melalui aktivitas arung jeram, menjadi salah satu titik balik buat saya pribadi. Iya saya harus sehat, harus lebih fit untuk wisata berikutnya.

Suami juga ternyata punya tekad yang sama. Karena ternyata dengan wisata arung jeram ditambah dengan beberapa kegiatan lainnya di liburan bersama keluarga tersebut, kami terbilang kurang fit. Cepat lelah saja bawaannya.

Itulah kenapa, sejak saat itu, kami berdua berusaha untuk merubah pola hidup. Kalau dari sisi makanan, yaaa kok masih susah ya? Secara kami adalah pemakan segala, hahaha.

Maka kami mulai dengan olahraga dan mengatur waktu tidur. 

Mengusahakan tidur sebelum jam 11 malam, ternyata membuat ketika bangun tidur lebih fit. Bahkan saya sekarang sekitar jam 9-10 malam sudah cukup ngantuk. Karena memang tubuh ketika mulai jam 11 malam ini mulai melakukan proses detoksifikasi atau pengeluaran racun di dalam tubuh terutama organ-organ tubuh bagian dalam.

Selain pola tidur, kami melakukan olahraga sesuai dengan minat kami masing-masing. Suami dengan jogging atau lari sepulang kerja 2-3x seminggu, saya melakukan yoga 2-3x seminggu.

Monday, November 19, 2018

Wonderful, Itulah Indonesiaku

Buka album foto-foto lama, ternyata e ternyata, isinya banyak juga yang serba jalan-jalan atau piknik ya? Indeed, kami memang keluarga traveller sejati ini, ya maksudnya siapa tahu ada yang mau endorse buat ke Raja Ampat atau Belitong gitu? Hahaha ngarepnya begitu.

Eh tapi diAMINin aja, ya kan? Semua hal itu tidak ada yang kebetulan, pasti ada niat atau terbersit di pikiran terlebih dahulu. Termasuk soal jalan-jalan ini. Wisata buat kami sekeluarga, rata-rata memang pakai niat dan rencana dan ternyata setelah dijalani selama beberapa tahun ini, kami lebih tertarik untuk mengunjungi lokasi-lokasi wisata negeri sendiri. Yang kalau kita bedah pun, gak bakalan habis-habis dari Sabang sampai Merauke.

Beginilah cara kami, menikmati pesona Indonesia. Dari mulai laut hingga pegunungan, semua kami suka. Makin alami tempatnya, makin eksotis tempatnya, makin menantang medannya, maka saya, suami dan anak-anak makin tertarik menjelajahinya.

Ini foto jaman belum ada Sasha, Ical masih berusia dibawah 5 tahun. Waktu itu piknik tanpa suami, karena suami masih kerja di luar Jawa yang memang tidak bisa membawa keluarga. Jadilah kami piknik ramai-ramai bersama Eyang dan Budhe ke Taman Buah Mekarsari. Di taman ini, kita bisa mengeksplor aneka tanaman dan buah-buahan dari seluruh Indonesia.


Saturday, November 17, 2018

Mic BM 800, Cocok Buat NgeVlog!

Tanpa terasa, project ngeVlog bareng anak-anak mulai masuk bulan ke-3. Sebenarnya sudah kami mulai sekitar 2 tahun lalu, tapi belum terlalu rutin upload kontennya. Barulah 2 bulan belakangan ini, minimal 1 minggu sekali ada materi video baru yang bisa ditonton.


Dengan mengusung nama SADDHA STORY, channel youtube ini berisi tentang 3 materi utama sebagai berikut:

1. Wisata Kuliner atau Makan-Makan

2. Piknik atau Jalan-Jalan

3. Lagu Anak/ Lagu Nasional/ Lagu Daerah

Fokus channel Saddha Story yang digawangi langsung oleh Ical & Sasha ini memang lahir sebagai bentuk keprihatinan, banyaknya channel youtube yang dibawakan anak-anak, tapi isinya kurang ramah anak. Misal hanya sekedar lucu-lucuan saja, tanpa ada unsur edukatifnya. 

Friday, November 16, 2018

Trik Macro Photography Murah Meriah!

Travelling dan fotografi, sepertinya sudah jadi satu paket yang gak bisa dilepaskan begitu saja. Dengan banyak eksplorasi ke banyak tempat, tentunya bikin makin gemes dengan aneka obyek foto yang dikunjungi.

Saya sendiri, termasuk yang agak males bawa kamera kemana-mana. Mau itu kamera pocket, DSLR, atau mirrorless, rasanya ribet gitu. Itulah kenapa, paling praktis pakai smartphone yang dipunya saja. Ya, meski secara resolusi atau ketajaman gambar kamera smartphone masih kalah dibanding kamera beneran, tapi lumayanlah kalau sekedar untuk menyalurkan hobby dan juga mengabadikan momen dengan cepat.

Dari banyak teknik fotografi yang ada, salah satu yang saya suka adalah Macro Photography. Yaitu suatu teknik fotografi yang hasilnya ini menyerupai ukuran aslinya. Satu banding satu. Obyek foto yang dituju memang biasanya serba kecil dan kadang hampir tidak kelihatan karena lokasinya yang sering kali nylempit alias tidak mudah diketemukan.

Obyeknya sendiri beragam, bisa mulai dari benda mati seperti lego, action figures serta obyek miniatur lainnya. Atau bisa juga berupa ragam flora dan fauna, dari mulai kepik, belalang, semut, lebah, hingga aneka tumbuhan dan juga bunga-bunga liar.

Berikut beberapa contoh foto makro yang saya ambil:

Thursday, November 15, 2018

GoJekin Aja!

Dulu tiap ke Jakarta, saya suka bingung, mau naik apa ya? Kadang cari ojek suka susah, gak tau dimana mangkalnya. Mau pake taksi? Haduh, lihat-lihat dulu, kalo lokasinya jauh, bisa tekorrrr lah. Mau naik bis? Kadang bisa, kadang juga harus ngejar waktu karena aktivitas berentetan.

Sejak mengenal ojek online beberapa tahun terakhir, aktivitas di seputaran Jakarta, ternyata amat sangat membantu. Saya yang bukan asli Jakarta, dan sebagian besar aktivitas masih berada di Jogjakarta, tentu tiap ke ibukota ini, masih saja gak begitu apal dengan rute jalan. Padahal ya dulu pernah kerja di Jakarta, tapi yang diapalin ya rute dari rumah kakak tempat saya tinggal pas masih kerja disana, sampai ke kantor. Udah itu aja!


Halah jangankan di Jakarta, di Jogja sini pun, kalo bukan ke jalan yang familiar, saya suka nyasar. Kalau saya bilang, malah saya itu semacam punya geo-weakness, istilah yang saya buat sendiri untuk melabeli diri saya yang suka nyasar gak ngerti arah.

Tuesday, November 13, 2018

Review Film: Kulari Ke Pantai

Perempuan dan seorang Ibu, melakukan perjalanan bersama putrinya dari Jakarta menuju Jawa Timur dengan nyetir sendiri?

Buat saya yang juga seorang Ibu, langsung berkenyit, bisa juga gak ya? 

Inilah yang ada dalam deretan scene film Kulari Ke Pantai, hasil pemikiran duo manusia kreatif yang tidak bisa kita ragukan lagi dalam industri perfilman Indonesia, yaitu Riri Reza dan Mira Lesmana. Ciri khas film buatan mereka berdua adalah membawa penontonnya ikut merasakan momentum jalan cerita yang ada dalam skenario filmnya.


Saya masih ingat benar, jaman kuliah dulu, rela ikut antri nonton film Petualangan Sherina. Bahkan sampai 2x nonton! Hahaha niat bener! Dari mulai lagu-lagunya, urutan detail scenenya, sampai hari ini pun, bisa dibilang 80-90% saya hapal. Iya, saking kerennya ini film, hingga mampu membuai saya yang selalu punya kriteria ruwet dan njlimet kalau mau nonton film, terutama di bioskop.

Monday, November 12, 2018

Review Buku: Keliling Asia, Memburu Cahaya

".....kini aku ingin memiliki tujuan yang jelas dalam setiap perjalanan. Bagaimana caranya? Tujuan baru ini mungkin bisa membuatku belajar lebih banyak..."
Sepenggal cuplikan kalimat inilah yang langsung menarik minat saya, untuk memboyong buku karya Tary Lestari yang berjudul "Keliling Asia, Memburu Cahaya.


Tary adalah seorang penulis cerpen, novel, artikel perjalanan dan juga skenario. Karya-karyanya juga sudah menghiasi beragam media di Indonesia, salah satu yang cukup terkenal adalah ikut sebagai tim penulis skenario sinetron televisi Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

Buku yang diberi label "Travel Diary" ini memang berisi perjalanannya ke kota-kota di negara-negara Asia dari Xi'an hingga Hochiminh, dimana sang penulis menemukan banyak cerita dari budaya masing-masing lokasi yang dikunjunginya, berikut dengan indahnya sisi kemanusiaan yang ia temukan.

Saturday, November 10, 2018

Maskapai Penerbangan Murah Tetap Jadi Idola?

"Yah, Bunda ambil Lion Air aja ya", tanya saya tadi pagi. "Jangan dulu", kata suami saya. "Lumayan yah, beda 200-300ribuan". "Udah gak papa", jawab suami.

Sejak terjadinya kecelakaan maskapai penerbangan Lion Air beberapa waktu lalu, dan bertepatan dengan aktivitas saya yang harus wara-wiri Jogja-Jakarta, ternyata membuat suami saya sedikit khawatir. Akkk ini saya bilang, co cweetttttt. Hahaha oke oke, kembali ke tema postingan ini.

Jadi biasanya saya berangkat naik pesawat, karena sekaligus biar cepat ke studio dubbing, dan menjaga stamina tetap oke, supaya hasil produksi suara juga tetap bagus. Sementara pulangnya, baru naik kereta ke Jogjakarta. Atau kadang kalo waktu mendesak, juga dua-duanya harus pakai pesawat.

Sebenarnya, saya gak begitu masalah mau memilih maskapai penerbangan yang mana. Ya, secara prinsip emak-emak lah ya, kalo lebih murah, lebih hemat, lebih baik. Kan lumayan bok, beda 200-300ribu itu bisa buat belanja isi dapur, bisa buat isi bensin, dan lain-lain.


Friday, November 9, 2018

Emak Ranseller

Sejak beberapa minggu terakhir ini, saya cukup sering bolak-balik Jogja-Jakarta kisaran 2-3 hari setiap minggunya, untuk mengerjakan proyek dubber & sandiwara radio. Otomatis sebagai emak-emak anak 2 yang dua-duanya sudah sekolah, harus putar otak, cari cara, supaya segala sesuatu tetap berlangsung dengan aman sentosa.

Mulai dari menyiapkan terlebih dulu apa saja yang perlu anak-anak bawa ke sekolah selama saya pergi 2-3 harian, siapa yang bisa antar jemput anak-anak secara biasanya semua saya handle semuanya, hingga pernak-pernik lain yang anak-anak butuhkan selama saya tidak di rumah.

Setelah semua delegasi dan rekomendasi tugas di rumah beres, saya lanjut memikirkan diri saya, terutama dengan pergi hanya beberapa hari saja dan tanpa anak-anak, maka saya tidak butuh koper ataupun tas yang terlalu besar.

Selama ini koleksi di rumah, adalah tas koper kalo untuk bepergian, karena 90% perginya pasti bareng anak-anak. Nah, kali ini artinya beda ceritanya, saya harus mempersiapkan ala saya, ala emak-emak yang mau kerja keluar kota. Kalo kata orang sih, nama bekennya, Business Traveller. Halah, saya kan tidak sedang mengerjakan bisnis. Saya itu ke Jakarta dalam rangka menyalurkan hobby cuap-cuap saja kok :D

Bicara tentang tas, untuk sehari-hari di Jogja pun, saya jarang pake tas wanita, macam hand bag, tote bag, dll. Malah bisa dibilang sekarang gak punya. Lebih seneng tas slempang bahan kanvas begitu, macam anak kuliahan. Maka ketika pilihan apa yang saya bawa untuk ke Jakarta ala Emak Traveller atau Emak Backpackeran, adalah Tas Ransel.


Thursday, November 8, 2018

Indomie Eksklusif di Warunk Upnormal

Warunk Upnormal, sebenernya di Jogja udah ada beberapa restonya, tapi belum kesampaian juga. Sampai akhirnya kemarin tanggal 7 November 2018, pulang dari Pelatihan Dubber di kawasan Jakarta Selatan, sambil menunggu Pak Suami yang masih kerja, saya melipir makan siang di Plaza Festival, sekalian melanjutkan tugas ODOP yang belum selesai.

Yes, tempat yang begitu luas, dengan aneka makanan, sempat membuat saya galau, mau makan apa nih. Mmm kadang terlalu banyak pilihan itu malah bikin kita bingung. Okelah, karena sudah jam 2 siang, dan sumpah laper banget setelah proses latihan dubbing berlangsung, maka saya mengambil resto yang ada di bilah terluar Plaza Festival. 


Warunk Upnormal, di jam 2 siang masih saja ramai, padahal hitungannya ini sudah bukan jam maksi. Atau orang-orang Jakarta kalau makan memang suka jam segini ya? Sebagian besar yang datang, minimal 2 orang dalam 1 group. Bahkan ada yang beramai-ramai. 

Wednesday, November 7, 2018

Smartphone Photo-Videography, Penting Banget Buat Traveller Blogger!

Seperti halnya nasi, ada nasi putih, nasi merah, nasi kuning, sampai ke nasi padang, hahaha. Eits, ini mau ngomongin apaan sih? Ini nih, maksudnya segala sesuatu di dunia ini, pastilah ada yang namanya perbedaan dan beragam varian.

Contohnya nasi yang udah saya sebutkan di awal kalimat, terus misal aneka minuman, dari hangat dan dingin dengan beraneka pilihan, jenis dan namanya.

Begitu pula dengan dunia ngeblog, ada beragam kategori blogger, yang biasanya dikelompokkan berdasarkan apa yang paling banyak dibahas atau ditulis di dalam blognya. Misal blog saya yang www.innaistantina.com, meski blog ini usianya udah 7 tahun, tapi isinya gado-gado, segala macam ada tuh. Dari parenting, jalan-jalan, makan-makan, puisi pun ada, psikologi, relationship, gadget, wes pokoke tumplek blek dalam 1 blog. Kalo istilahnya orang yang jualan, PALU GADA. Apa loe mau, guwe ada! :D

Blog yang ini, www.SaddhaStory.com, memang saya khususkan untuk mengupas tentang review  lokasi wisata dan kuliner. Nah blog dengan tipe ini, sering disebut dengan blog food & travelling, dan bagi si pelakunya disebut dengan Traveller Blogger atau Food Blogger. Tentunya selain membahas makanan dan minuman, juga menampilkan hal-hal yang berkaitan.

Apa saja misalnya yang berkaitan?

Ok gini gini, jadi ketika kita makan-makan atau mengadakan acara jalan-jalan, pastinya berkaitan dengan 1 hal penting. Yaitu Foto dan Video. Eh lah kok jadi 2. Hahaha. Kok pasti mba? Kan ada tuh yang gak suka juga videography, ribet!



Suka Makan-Makan? Suka Jalan-Jalan? Pilih Ngeblog atau Ngevlog?

Sejak aktif berkecimpung di dunia blogging kembali beberapa bulan ini, setelah sempat off beberapa tahun, saya menemukan beberapa hal yang menarik. Termasuk diantaranya adalah semakin maraknya blogger yang aware dengan konten foto dan juga video untuk blognya.

Kalo jaman awal ngeblog di tahun 2005 dulu, mungkin foto itu sekedarnya saja, atau cukup comot saja dari google, ternyata jaman sekarang blogger makin kreatif, dengan mengabadikan foto yang diambil sendiri untuk diupload di blog maupun sosial medianya.

Ya, meski sekarang juga masih banyak kok, yang memakai foto dari sumber tertentu sebagai pelengkap artikel di blognya. Gak masalah, yang penting jangan lupa memberikan nama sumbernya, pakai etika online yang baik dan benar. Gimanapun foto maupun video itu juga merupakan hasil karya.

Dengan terus melanjutkan aktivitas ngeblog yang makin lama makin menyenangkan, saya juga menantang diri sendiri untuk melebarkan sayap ke media yang lebih visual. Yes, yaitu VLog, atau Video Blog. 

Gak sendirian, saya ajak kedua anak saya, yaitu Ical & Sasha untuk ikut serta. Vlog sederhana saja, tentang jalan-jalan dan makan-makan. Nama channel youtubenya juga sama seperti yang tertera di blog ini, SADDHA STORY.

www.youtube.com/SaddhaStory
Kenapa memilih tema food & travelling? Bukannya udah banyak? Iya sih udah banyak, tapi belum banyak loh yang menggarapnya dengan serius dan profesional. Tsahhhhh! :D

Monday, November 5, 2018

Eksplorasi Negeri Sendiri Atau Jalan-Jalan Ke Luar Negeri?

Era serba mudah terbang kemana saja, baik dalam dan luar negeri ini, tampaknya membuat beberapa orang atau tepatnya beberapa keluarga, menjadi latah untuk makin sering jalan-jalan.

Yes, makin jauh perginya, makin kekinian lokasinya, makinlah strata sosial seseorang beserta dengan keluarganya, menjadi naik di mata para penikmat sosial media.

Ke luar negeri, siapa sih yang gak mau? Eh atau bener ada yang gak pengen? Mmm, saya sih dulu pengen banget, sekarang? Ya masih lah! Hahaha. Hanya saja sejak menikah dengan Pak Suami yang seorang adventurer sejati, hobby arung jeram sementara istrinya hobby motretin aja atau PakSu yang hobby naik gunung, saya milih makan di warung di kaki gunung :D

Oke oke, singkat cerita, sejak menikah dengan pria yang demen banget sama pemandangan alam ini, tanpa terasa nular juga ke saya. Hya hyaa hyaa, jadilah saya ikutan juga yang namanya arung jeram, tapi masih keki ditawarin naik gunung. Hwaaaa, gak kebayang gimana rasanya.


Sunday, October 28, 2018

Friday, October 26, 2018

Wisata Baturraden, Sejukkkkkk!

Masih dalam rangkaian perjalanan silahturahmi ke Bumiayu, selain bermain di Pantai Logending Kebumen saat berangkat, Ical & Sasha ketika perjalanan pulang menuju Jogjakarta, juga sempet mampir nih ke wisata Baturraden yang sudah terkenal lama ini.

Berangkat dari Bumiayu sudah agak siang, jadi pas sampai Baturraden juga sudah ramai pengunjung, bahkan tinggal 2 jam lagi menuju tutup. Jadilah bergegas untuk menikmati wahana yang ada.

Sebenernya Eyang Uti juga pengen ikut turun, tapi ketika melihat medan di tempat wisata yang cukup curam, banyak naik turunnya, akhirnya Eyang nunggu di mobil aja.

Setelah membeli tiket, langsung masuk dan menemukan pemandangan yang begitu asrinya. Banyak pepohonan, dan gemercik air yang bikin suasana makin nyaman. Udaranya juga sejukkkkkk! Bikin pengen berlama-lama. Tapi kan, udah mau tutup nih wisata Baturradennya, jadi yaaaa cepet-cepetan aja deh!

Wednesday, October 24, 2018

Bermain di Pantai Logending Jawa Tengah

Musim liburan sekolah beberapa bulan lalu, Ical & Sasha ikut Eyang Uti pergi ke Bumiayu. Ini adalah kota kelahiran sekaligus tempat tinggal Eyang, sampai menikah setelah lulus SMP. Eh, kita juga sempet main ke SMPnya Eyang nih.

Kata Eyang, jaman dulu banyak yang menikah muda, bahkan Eyang terbilang yang paling terlambat, karena teman-teman Eyang yang perempuan, rata-rata sudah menikah setelah lulus SD.

Nah, dalam perjalanan menuju Bumiayu ini, kita pakai sopir yang bernama Pak Sukir. Lucu deh, Pak Sukir ini suka ambil jalan pintas, tapi abis itu bingung sendiri, alias nyasar. Haha! Eh tapi karena nyasar ini, kita malah ketemu sebuah pantai. Waaa pantai apa ya?



Namanya Pantai Logending. Menurut Wikipedia, Pantai Logending ini merupakan salah satu objek wisata pantai yang terletak di kabupaten Kebumen provinsi Jawa Tengah. Pantai Logending disebut juga sebagai pantai Ayah. Meskipun terletak di kecamatan Ayah, pantai ini lebih sering disebut berada dekat atau satu wilayah dengan Gombong yang merupakan suatu kecamatan di kabupaten kebumen. Pantai Logending terletak di desa Ayah kecamatan Ayah kabupaten Kebumen yang berbatasan dengan kabupaten cilacap. Pantai ini berjarak sekitar 53 km dari kota kebumen dan sekitar 8 km dari objek wisata Gua Jatijajar. Pantai ini mudah dicapai oleh wisatawan misalnya dari arah Yogyakarta maka wisatawan cukup menempuh jalur selatan ke arah Gombong kemudian ke selatan mengikuti jalan sampai terdapat pantai dan bukit.

Thursday, October 18, 2018

Arung Jeram di Sungai Progo! Seru-Seru Asikkk!


Nahhh, belum kelar nih ternyata cerita tentang Hotel Puri Asri yang ada di Magelang! Karena ada satu lagi lokasi wisata yang spesial dan bikin jantung deg-deg-an!

Yaituuuuu


Hwaa Sasha sempet manyun terus nih, selama arung jeram. Manyun atau takut ya? Hehe. Kalo Ical sih menikmati banget! Apalagi ayahhh, ampe turun terjun ke sungai buat berenang-renangsebentar




Dari kamar tempat menginap di Hotel Puri Asri, lokasi pemberangkatan arung jeram ini terbilang dekat. Nah dari sini, kami naik colt angkot dulu nih, terus lanjut jalan kaki lumayannnn jauhhh buat menempuh ke arah sungai. Tapi tenang, kita ada pendampingnya kok. Jadi yang bawa perahu arung jeram itu uda ada petugasnya sendiri.

Jiyahh, gak kebayang kalo Ayah atau Bunda yang mesti bawa perahu itu, jalan kaki cukup jauh sedemikian rupa. Bisa gemporrrr. Tentunya eyang uti gak ikutan yaaa pas kita arung jeram ini, jadi eyang nunggu di kamar hotel sambil istirahat setelah jalan pagi di areabawah Puri Asri yang dekat dengan Sungai Progo.

Wednesday, October 17, 2018

Puri Asri Magelang: Penginapan & Wisata Paket Komplit!

Ini sebenarnya liburan kami sekeluarga ke Puri Asri Magelang pada akhir tahun 2016, tapiii berhubung rekam jejaknya masih di vlog aja, maka boleh lah yaaaa, ditulis ulang di blog ini, yang memang dikhususkan buat acara jalan-jalan. 

Meski wisatanya tahun 2016, tapi Ical & Sasha masih inget terus loh. Dannn selalu request untuk balik lagi kesana. Karena memang asik banget! 

Nah, apa aja sih serunya wisata di Puri Asri? Penginapan yang berada di Magelang ini, bukan hanya sekedar tempat menginap, tapi juga banyak tempat wisatanya. Apalagi berdekatan dengan Sungai Progo, maka membuat suasananya benar-benar back to nature. Bahkan kalo malam hari, kedengeran banget loh suara air sungai dan anginnya juga bertiup kenceng banget.

Oke, ini beberapa keseruan yang ada di Puri Asri yang beralamat di Jl. Cempaka No.9, Kemirirejo, Magelang Tengah, Kemirirejo, Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah

1. PlayGround




Liburan keluarga dan ada anak kecilnya, pasti yang dicari pertama adalah playground. Puri Asri Magelang pun menyediakan playground di alam terbuka yang cukup luas. Dari  mulai ayunan, jungkat-jungkit dan aneka permainan lainnya. Sasha waktu itu masih usia 4 tahunan, dan masih agak takut-takut pas jalan di atas jembatan goyang, hehe.

Sunday, October 14, 2018

Grojogan Sewu Tawangmangu, Asyikkk Banget!

Cerita tentang Tawangmangu, masih ada satu lagi  yaaa, dan pastinya ini juga cukup spesial, karena tempat wisata ini, pasti udah  banyak yang tau, atau malah beberapa ada yang udah pernah singgah berlibur bersama keluarga

Namanya Grojogan Sewu, tingginya sekitar 81 meter, dan ketika Ical dan Sasha datang, sudah padat oleh orang yang berada di sisi air terjun. Kata Bunda, kalau jaman dulu, orang-orang bisa langsung mandi dan berenang di bawah air terjun, tapi sekarang gak boleh, tentunya karena alasan keamanan. 
Air terjun Grojogan Sewu terletak di lereng Gunung Lawu. Grojogan Sewu terletak sekitar 27 km di sebelah timur Kota Karanganyar. Air terjun Grojogan Sewu merupakan bagian dari Hutan Wisata Grojogan Sewu. Grojogan dalam bahasa Jawa berarti air terjun dan sèwu berarti seribu. Sehingga Grojogan Sèwu berarti air terjun seribu. Meski air terjun di sini tidak berjumlah seribu, tetapi ada beberapa titik air terjun yang dapat dinikmati di sini. Kata sewu atau seribu disini berasal dari seribu pecak, atau satuan jarak yang digunakan saat itu yang merupakan tinggi air terjun. Satu pecak sama dengan satu telapak kaki orang dewasa (wikipedia). 

Friday, October 12, 2018

Serunya Wisata Ke Bukit Sekipan

Seperti janji sebelumnya, sekarang saatnya Saddha Story melanjutkan cerita jalan-jalan saat di Tawangmangu. Selain bisa bermain & berenang sepuasnya di Nava Hotel, kami sekeluarga pun tentunya gak mau melewatkan kesempatan untuk jalan-jalan di lokasi-lokasi wisata terkenal yang ada di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar ini.

Salah satu yang terbilang baru dan cukup terkenal saat ini adalah Bukit Sekipan. Awalnya kami belum tau sih, kalo ternyata ada tempat wisata ini. Setelah teman Bunda kasih info, barulah googling untuk lebih tau seperti apa Bukit Sekipan ini.


Thursday, October 11, 2018

Asyiknya Berenang di Nava Hotel Tawangmangu


Siapa yang punya hobby berenang seperti Ical & Sasha?

Berenang itu memang asyik banget dan kita bisa dapet banyak manfaat, terutama badan jadi lebih sehat dan segar. Nah, liburan tahun baru 2018 lalu, Ayah Bunda mengajak Ical & Sasha berwisata ke Tawangmangu. Tau, kan? Sebuah lokasi wisata terkenal di Karanganyar, Jawa Tengah, yang terkenal dengan Grojogan Sewu dengan 1250 anak tangganya.

Berangkat jam 7 pagi dari Jogjakarta menggunakan mobil, kami berempat berbekal sandwich yang Bunda siapkan dari pagi. Wah, untungnya bawa bekal sendiri, karena agak lama nih cari tempat makan. Ayah tuh, sukanya lewat jalur alternatif, jadi masuk ke desa-desa yang jauh dari aneka macam tempat makan. Tapi tetap banyak masjid kok, jadi bisa mampir untuk sholat. Tentunya dengan lewat jalur alternatif, jalanan tidak terlalu macet.

Sesampai di Nava HotelTawangmangu, Sasha gak sabaran segera berenang. Ayah tau aja, tiap menginap di hotel, pasti memilih kamar yang dekat dengan kolam renang. Apalagi di Nava Hotel ini, kamar kami malah menghadap langsung ke kolam. Waaa asyik banget!



Sunday, October 7, 2018

Welcome to Saddha Story Blog!

Halooo holaaaa

Selamat datang di blog Saddha Story! Salam kenal buat seluruh om-tante budhe-pakdhe dan kakak-kakak sekalian semuaaa. Ada Ical dan Sasha yang siap berbagi cerita. Mmm lebih tepatnya Bunda InnaIstantina yang Insya Allah update segala kegiatan Ical & Sasha, kakak beradik, sekaligus vlogger cilik yang sering mereview tempat makan dan tempat wisata, khususnya di Jogjakarta, dan lebih luas lagi bisa dimanaaaa aja!