Thursday, August 22, 2019

Liburan Ke Bromo, Menginap Dimana?

"Bun, ke Bromo yuk", ujar suami sekitar 2-3 hari pasca lebaran tahun 2019 ini.

Ya hayuklahhh, masa saya nolak :D

Ayahnya Ical dan Sasha ini memang suka surprise begini. Seringnya kalau mau liburan, suka dadakan. Di satu sisi, seneng pastinya. Di sisi lain, artinya harus gedubrukan nyiapin segala persiapannya. Langsunglah hari itu, suami booking hotel dan saya sibuk dengan persiapan packing, mau baju apa saja. WA ke Mbak Ria, seorang sahabat yang pernah pergi ke Bromo, "Mbak, itu sedingin apa di Bromo", tanya saya. "Pokoknya dingin banget mba, aku ama anakku double jaket aja masih dingin banget".

Ok fix, berarti harus cari jaket, yang tebal. Beberapa sudah ada, beberapa sewa di tempat yang biasa untuk sewa alat-alat camping, dan yang punya Sasha mau gak mau harus beli, karena di persewaan hanya ada ukuran remaja hingga dewasa.

Tibalah saatnya berangkat ke Bromo, kali ini kami mampir dulu ke Magetan, di rumahnya Mas Priyo, teman suami ketika masih kuliah S2 di HI UGM. Lanjut ke Bromo jam 3 sore dan bisa ditebak, sampai Bromo pasti sudah malam.

Hotel Cemara Indah, Bromo

Sesampai di area Bromo, kami segera ke hotel dimana kami sekeluarga menginap, apalagi waktu itu Sasha sejak dari meninggalkan kota Magetan, kurang enak badan, beberapa kali muntah di dalam perjalanan. Karena sudah terlalu malam dan saya juga fokus dengan kondisi kesehatan Sasha, maka saya kurang terlalu fokus untuk mengambil foto suasana kamar. Ini adalah foto yang saya ambil di website resmi Hotel Cemara Indah.

pic: cemaraindahhotel.com

Seperti gambar inilah kamar kami, sengaja pilih yang tipe standard, karena memang di Hotel Cemara Indah ini hanya untuk transit saja, sebelum dini harinya kami menuju puncak Bromo. Ya paling tidak begitulah rencananya.

Meskipun akhirnya rencana tidak berjalan semulus perkiraan awal, karena Sasha masih muntah beberapa kali, maka yang naik jeep dan ikut tour Bromo hanya Ical & Ayahnya, Bunda & Sasha stay di Hotel Cemara Indah.

pic: bromoguide.com

Pagi hari saat sarapan, saya mengajak Sasha keluar kamar supaya bisa menghirup sejuknya udara pegunungan, sambil mencicip menu sarapan. Gak ada yang spesial sebenarnya dari menunya, dan saking saya juga masih concern dengan kondisi Sasha, jadilah saya kelupaan buat motret suasana di tempat makannya, tapi kurang lebih seperti inilah restoran di Hotel Cemara Indah - Bromo.

pic: ostrovok.ru
Barulah setelah sarapan selesai, saat saya & Sasha menikmati suasana sekitar hotel yang ternyata bisa langsung memandang ke arah Bromo, disinilah baru saya ambil foto. See, bisa terlihat kan, kalo di Hotel Cemara Indah ini memang benar-benar dekat ke Bromonya, bahkan view Bromo tampak cukup jelas penampakannya dari arah hotel.

Sasha sedih, gak bisa ikut tour ke puncak Bromo karena masih sakit :(
Sedih banget sebenernya, karena liburan ke Bromo ini, bisa dibilang gagal gak sesuai rencana semula. Padahal awalnya Sasha udah hepi banget pengen bisa jalan-jalan dan naik gunung pertama kali. Bunda juga bener-bener fokusnya ke Sasha supaya lekas pulih, jadi tidak banyak foto-foto yang diambil saat menginap di Hotel Cemara Indah ini.

Selebihnya, Ical yang juga mengaku sempat sedih karena gak bisa bareng adiknya menikmati keindahan Bromo, so far menjadi cukup terobati terutama setelah melihat sunrise di Bromo. Meski menurut cerita Ical, karena banyak kabut, jadi sunrisenya tidak terlalu kelihatan.

Wednesday, August 14, 2019

Pantai Drini, Riwayatmu Kini

Sekitar awal tahun 2019 ini, saat masih tinggal di Jogkakarta, kami sekeluarga menyempatkan diri untuk main ke pantai. Secara kalau diingat-ingat lagi, terakhir benar-benar menikmati suasana pantai itu sudah lebih 5 tahun lalu. Dan benar saja ketika melihat file foto-foto yang diupload di sosmed, terakhir ke pantai itu memang sudah lama sekali, waktu Sasha masih bayi. 

Sebenarnya, saat masih tinggal di Jogjakarta, akses ke pantai itu sangat mudah dan lebih dekat. Tapi memang, ketika musim liburan tiba, perjalanan menuju ke pantai yang kami pengen itu luar biasa macetnya. Ya, ke pantai di daerah wonosari, gunungkidul jogjakarta. Kenapa pilihannya pantai-pantai di deretan wonosari? 

Karena memang terkenal dengan pasirnya yang putih serta pemandangannya mempesona. Sejuta harapan dan ingatan yang masih ada di kepala, bahwa pantai-pantai di wonosari itu cantik! Tanpa pikir panjang, tanpa riset dulu, kami sekeluarga berangkat dari kawasan Sleman Jogjakarta di pagi hari sebelum jam 7 pagi, supaya bisa menikmati pantai lebih lama dan belum terlalu terik karena siang hari dan terik matahari.

Sesampai di lokasi, kaget dong! Kondisi pantai sudah amat sangat berbeda dengan terakhir kami kesana. Pantai yang kami pilih juga sama seperti tahun 2013, yaitu Pantai Drini, yang berdekatan dengan Pantai Indrayanti dan berderet dengan Pantai Baron, Krakal, Kukup yang terkenal terlebih dahulu.

Sorry to say, pantainya cenderung kumuh. Terlalu banyak aksesoris tidak alami yang terpampang di depan mata. Tenda-tenda payung lengkap dengan tikar yang siap disewa pengunjung pantai. Kano yang memang secara fungsi wisata ini keren banget, tapi secara estetika keindahan pantai, ini bikin enggak banget.


Pasirnya? Duh ini yang paling ngenes, pasir warnanya sudah tidak seputih dulu, cenderung lebih hitam dan kotor. Bisa dibandingkan dari kedua foto yang saya kolase ini, foto di tahun 2013 dan 2019. Di tahun 2013, masih leluasa untuk foto gaya apapun, bisa ambil landscape indahnya pantai Drini, sampai bersihnya pasir yang memanjakan mata. Yang di tahun 2019? Duh penuh dengan payung-payung yang sebenarnya payungnya memang cantik tapi *too much* untuk berada di sekitaran pantai yang harusnya dijaga kemurniannya.

Alhasil, kami harus cari trik saat mencari angle foto supaya foto tetap indah dipandang. Suami bilang, supaya fotonya dengan background air lautnya, supaya tidak bocor dengan payung ataupun pasir yang kurang cantik.

Thursday, January 31, 2019

Wisata Kota Tua Jakarta, Ada Apa Saja?

Wisata ke Kota Tua jakarta, artinya bersiap dengan pemandangan eksotis yang membuat kita terpukau dengan arsitektur bangunan tempo dulu.  Apalagi ketika mengunjungi kawasan ini saat musim liburan, seperti saat saya beserta suami dan anak-anak, pengunjung membludak membanjiri kawasan ini.

wisata bersejarah kota tua jakarta

Stasiun Jakarta Kota, Gerbang Menuju Wisata Kota Tua Jakarta

Sama seperti perjalanan ke Bogor, kali ini kami sekeluarga juga menggunakan kereta Commuter Line menuju stasiun Jakarta Kota. Sesampai di stasiun ini, saya cukup terpukau dengan aneka hiasan di dalam stasiun yang masih mempertahankan desain jaman dulu. Ini jarang saya temukan di stasiun lain yang sudah banyak terjamah modernitas. Ya meski tidak bisa dipungkiri, di stasiun Kota Tua juga berjejer resto siap saji yang menggoda lidah para penumpang kereta yang hilir mudik di sepanjang stasiun.

stasiun jakarta tua, mempertahankan eksotisme masa lalu

Bisa dibilang, stasiun jakarta tua ini sebagai salah satu gerbang menuju wisata kota tua. Karena dari stasiun ini, kita cukup berjalan kaki saja menuju aneka wisata di kota tua. Melewati kerumunan pedagang dan manusia yang berjubel, inilah yang membuat kita juga tetap waspada, terutama dengan bawaan yang ada dan juga anak-anak yang ikut serta.

Daya Tarik Wisata Kota Tua

Lalu, apa sebenarnya yang menjadi daya tarik dari wisata kota tua bersejarah yang berlokasi di jakarta barat ini? Meskipun tempat ini berada di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, tapi tetap saja punya pesona tersendiri yang memukau banyak orang, termasuk saya, suami dan anak-anak.