Skip to main content

Posts

Prolog Buku Solo Perdana

Di tengah masih bingung mau pakai judul yang mana, boleh ya saya sedikit banyak membeberkan tentang prolog buku yang Insyaa Allah bakal saya fokuskan penuntasan penulisannya.

Pastinya sebuah buku tanpa cerita dan hikmah itu bukan buku yang punya greget. Seberapa greget buku ini? Yaitu terletak pada untaian kata yang bisa membuat siapapun merasa gembira dengan apa yang dialami oleh nara sumber yang saya wawancarai, ataukah ikut merasa begitu sesak dadanya karena kecewa yang dirasakan hingga rasa sedih yang cukup dalam, dengan emosi yang kurang lebih sama dengan apa yang sesungguhnya terjadi.

Travelling pada dasarnya memang membawa seseorang, sekeluarga ataupun beberapa orang merasakan yang namanya kebahagiaan. Tapi ternyata, travelling buat sebagian orang, bukan hanya kebahagiaan yang didapat, tapi juga ada esensi perjuangan di balik perjalanannya.

Recent posts

Penulis Pemula, Gimana Cara Mempublikasikan Bukunya?

Dunia ngeblog saya sudah kenal cukup lama, tapi untuk penerbitan buku, saya masih buta sama sekali. Ada pun buku antologi pertama bersama teman-teman di komunitas tertentu pun, ini sudah ada yang mengurus.
Terus proyek buku solo ini gimana dong? Apa yang mesti saya kerjakan?
Kalau saya sih mikirnya simple aja sih, sekarang ini sudah banyak penerbit indie yang siap menampung dan menerbitkan kita, tentu dengan biaya tertentu. Nah kenapa muncul banyak buku antologi, karena biaya cetak ddan penerbitannya bisa ditanggung bersama-sama. Otomatis, ketika ini adalah buku solo, maka kita tanggung sendiri.
Besaran biayanya yang pernah saya tahu di range Rp 200.000,00, untuk yang lainnya saya belum tahu persis berapa.
Untuk pemasarannya, tentu dengan cara yang sudah teman-teman penulis lakukan yaitu melalui online terutama sosial media.

Konsep Buku Solo Perdana, Akan Seperti Apa?

Di postingan sebelumnya, saya masih galau tentang judul apa yang tepat buat rencana buku yang akan saya buat.

Mmm, kira-kira judul apa yang tepat untuk sebuah buku yang berisi tentang travelling, sekaligus perjalanan yang ditempuh seseorang untuk menuju suatu tempat. Sebuah travelling ataupun perjalanan yang bukan sekedar tujuan senang-senang dan hura-hura, tapi juga ada hikmah mendalam di dalamnya.

Seperti misal kompaknya suami istri yang belum dikaruniai anak, dan memilih bahagia dengan rutin travelling setiap tahun. Perjalanan umroh seorang single mom dari rezeki yang datang dengan tidak disangka-sangka. Ataupun cerita seorang anak yang mengayuh sepeda belasan kilometer untuk menuntaskan cita-citanya. Serta aneka cerita perjalanan lain yang mampu menyentuh hati.

Dalam beberapa kali wawancara dengan nara sumber yang akan saya tampilkan dalam buku ini, para narsum ini berujar terharu dan tersentuh dengan apa yang saya tuliskan tentang diri mereka.

Bikin Buku Solo? Hayuk Aja!

Duluuu banget, pengen bikin buku. Seiring berjalannya waktu, sepertinya ini bukan prioritas saya lagi. Sampai suatu ketika, saya bergabung dengan beberapa komunitas penulis dan blogger. Rupanya marak sekali, munculnya buku-buku terutama antologi. Yaitu semacam buku yang isinya dikerjakan bersama-sama, ada beberapa penulis dalam 1 buku.

"Seru juga nih project buku antologi", pikir saya beberapa waktu lalu, terutama saat melihat beberapa sahabat yang kebetulan juga seorang penulis artikel, sudah melahirkan buku antologi untuk kesekian kalinya.

Hingga datanglah masanya, dalam satu komunitas yang saya ikuti, menawarkan siapa saja yang tertarik untuk ikut dalam proyek pembuatan buku antologi, bisa segera mengirimkan naskahnya. Tanpa pikir panjang lagi, lalu pun saya kerjakan, dan saat ini sedang menunggu masa-masa untuk diterbitkan. Yes, Bismillah, that would be my first book. Antologi gak masalah, tetap itu adalah sebuah karya.

Ya siapa tahu, suatu saat kesempatan untuk membuat …

Sepeda Onthel Penebus Impian

Kisah perjalanan ini bermula dari sebuah sepeda tua.
Ada yang hobby naik sepeda mungkin? Hobby artinya hanya untuk having fun, jalan-jalan, refreshing, bisa juga untuk menunjang kebutuhan olahraga?
Apa jadinya ketika sebuah sepeda mengantarkan seorang anak desa hingga menjadi sosok yang sukses seperti sekarang ini?



Iya, anak ini, namanya Iwan Prasetyo. Akrab dipanggil Iwan. Lahir dan besar di Purworejo, dengan kondisi keluarga pas-pas-an, membuatnya tumbuh menjadi anak yang kuat.
Mengayuh sepeda menjangkau 9 kilometer untuk menuju SMP idamannya, 13 kilometer untuk sampai ke SMA unggulan tempatnya menimba ilmu. Ini ukuran kilometer dari berangkatnya saja, belum pulangnya. Bisa membayangkan? 
Hidup dalam keluarga yang amat sederhana, bahkan mungkin jauh dari kata sederhana, membuat Pak Tukiran, Bapak kandung dari Iwan, bekerja semaksimal mungkin untuk menghidupi keluarganya. Adalah Growol, salah satu makanan khas Purworejo, yang selalu Pak Tukiran beli di pasar ketika hari sabtu atau minggu.

Berani Membeli Mimpi Ala Hastin Pratiwi

Impian? Bisa dibeli memangnya? Dengan apa?
Bagi sebagian orang, barangkali sudah terlalu lelah bermimpi, letih berharap dengan segala cita-cita yang belum kesampaian. Tapi tidak bagi seorang Hastin Pratiwi. Tiwi nama panggilannya, seorang single mom untuk Lubna putri tercintanya. 
Sekitar 15 tahun lalu, Tiwi pernah bermimpi untuk bisa ke tanah suci, tepatnya untuk melaksanakan ibadah haji. Iya, sebuah perjalanan spiritual. Sebuah travelling untuk mendekatkan diri ke Ilahi. Suatu saat, pernah mendapatkan kabar memenangkan uang 60 juta dari sebuah undian. Hal ini sudah membuat Tiwi berharap bisa berangkat ke tanah suci dengan uang tersebut. Tapi sayangnya, itu hanya penipuan.
Lalu apakah Tiwi berhenti bermimpi? Nyatanya tidak. Selain terus melakukan aktivitasnya sebagai IRT, freelance writer dan editor, hari-harinya yang sebagian besar dipenuhi dengan kegiatan bersama anak dan bejibun artikel yang dilahapnya, Tiwi menyadari bahwa sebuah impian itu layak untuk diperjuangkan.

Melalui Buku Ipp…

“Mengupayakan Bahagia” ala Manda Panda

Romantisnya sebuah hubungan suami istri itu seperti apa?
Apakah harus berupa mesra sepanjang waktu? Apakah dengan kirim bunga? Ataukah dengan mengingat hari ulang tahun pasangan dan pernikahan lalu melakukan segala sesuatu bersama di momen spesial tersebut?
Manda dan Panda, begitulah sebutan pasangan ini di dunia maya. Awalnya saya hanya kenal dengan Manda yang kebetulan kami bergerak di komunitas yang sama. Berteman di sosial media, membuat saya “diam-diam” mengenal Panda dalam tiap postingan Manda di sosial medianya. Dari sinilah, saya akhirnya juga tahu bahwa keduanya sering upload kegiatan travellingnya, baik di dalam maupun luar negeri. 
Manda dan Panda, mengukuhkan diri mereka sebagai Indonesian Couple Traveller, setelah sebelumnya jauh di masa mereka masih dalam status “pacar”, suka menikmati kuliner bersama.
Bicara tentang pasangan sehidup semati, bicara tentang dalamnya cinta seorang istri pada suami ataupun sebaliknya, Manda dan Panda adalah salah satu sosok pasangan yang saya k…